Loading
Musdah Mulia bersama tim penyelenggara Talkshow Ramadhan (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Tinggal sepekan lagi lebaran tiba. Penggiat sosial, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia yang juga Ketua Umum Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP), berharap momen puasa diminggu akhir ini menjadi waktu refleksi untuk lebih bijak menggunakan media sosial.
Hal itu lantaran, medsos masih menjadi sarana ‘empuk’ menyampaikan hoaks dan ujaran kebencian. “Makna puasa secara subtansial adalah pengendalian diri," katanya saat ditemui usai Talkshow Ramadhan yang bertema “Idul Fitri dan Kemenangan Spiritualitas” di Jakarta, Rabu (29/05).
Pengendalian diri dimaksud adalah membentuk pribadi mulia dengan tidak menjadi sumber 'bencana' kehidupan banyak orang. Misalnya, menjaga ucapan, sikap dan perilaku, untuk tidak mengganggu dan menyakiti orang lain. "Dalam konteks saat ini, tidak membuat status kebencian dan tidak menebarkan hoaks dan fitnah," ungkap Musdah.
Aktivis sosial dan pluralisme yang kerap menggaungkan pesan-pesan damai dan toleransi beragama ini, menyebut empat hal pokok menjadi pribadi yang bertakwa secara individu dan sosial.
Pertama, mudah berbuat kebaikan yang bermanfaat bagi banyak orang. Kedua, tidak berbuat maksiat dan dosa. Ketiga, mencintai sesama dan lingkungan. Ketiga,peduli terhadap sesama terutama yang membutuhkan. Keempat, peka kepada sesama dan lingkungan.