Usulan Bahasa Tidore Masuk sebagai Mata Pelajaran Direspon Disdik Tidore


  • Sabtu, 19 Oktober 2019 | 17:00
  • | News
 Usulan Bahasa Tidore Masuk sebagai Mata Pelajaran Direspon Disdik Tidore Kepala Dinas Pendidikan Kota Tidore Kepulauan Ismail Dukomalamo. (Arahkita/Apriyanto Daud)

TIDORE, ARAHKITA.COM - Kepala Dinas Pendidikan Kota Tidore Kepulauan Ismail Dukomalamo merespon usulan Sangaji Laho Umar Yasin yang meminta agar bahasa Tidore dimasukan sebagai mata pelajaran dalam kurikulum pendidikan di Kota Tidore Kepulauan agar supaya generasi muda di daerah ini tidak mudah melupakan bahasa daerah, usulan itu disampaikan Umar pada agenda silaturahim dengan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tidore Capt, Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen, pada Senin (24/9/2019) malam lalu.

Ismail Dukomalamo kepada media ini mengatakan bahwa dirinya sudah menyarankan ke Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara terkait dengan usulan Sangaji Laho. Di Kota Tidore ada tiga suku besar, suku Tidore, suku Makian dan suku Tobaru, Sabtu (19/10/2019).

"Jadi, nanti dari lembaga bahasa mau buat penelitian bahasa untuk muatan lokal di masing -masing Sekolah, maka saya saran ke lembaga Bahasa harus jalankan tiga bahasa ini," kata Ismail saat ditemui di aula Handayani Dinas Pendidikan.

Kata Ismail, tidak semua siswa yang bersekolah di Tidore suku asli Tidore, Oleh karena itu bahasa yang nantinya dipakai pada muatan lokal adalah Bahasa Tidore, Bahasa Makian, Bahasa Tobaru," Ini sudah saya sampaikan ke Kepala Balai Bahasa langsung, mudah-mudahan bisa direspon," ucapnya.

Ismail menambahkan bahwa terkait usulan tiga bahasa tersebut sudah direspon oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, dan pada tahun 2020 mendatang akan dilakukan penelitian guna untuk dijadikan buku sehingga bisa didistribusikan ke sekolah sebagai mata pelajaran muatan lokal (Mulok,red)," Usulan pak Umar saya sangat merespon baik, begitu juga dengan Kepala Balai Bahasa" tuturnya.

Lanjut dia, sangat tidak mungkin suku Makian dipaksakan untuk belajar bahasa Tidore sebagai muatan lokal, nanti bahasa ibunya nanti hilang," Jadi di komunitas Makian kita pakai bahasa Makian, komunitas Tobaru kita pakai bahasa Tobaru dan komunitas Tidore kita pakai bahasa Tidore, sehingga ada keseimbangan" ungkapnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru