Mikhael Dua Sebut Frans Seda Sosok Nasionalis dan Ekonom yang Paham Masyarakat


  • Sabtu, 21 Januari 2023 | 12:29
  • | News
 Mikhael Dua Sebut Frans Seda Sosok Nasionalis dan Ekonom yang Paham Masyarakat Akademisi, Peneliti Unika Atma Jaya Jakarta, Dr. Mikhael Dua, Akademisi, Peneliti ketika tampil sebagai salah satu pembicara pada seminar nasional Merajut Nilai Keutamaan Frans Seda dalam Menata Kemajuan Bangsa yang diselenggarakan KBM Jaya di Jakarta, Jumat, (20/1/2023). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Frans Seda dididik menjadi tokoh nasionalis walaupun butuh waktu yang cukup panjang, secara intensif di bawah sekolah Muntilan, pimpinan Van Lith pada waktu itu. Dia didorong untuk melihat bahwa Indonesia itu bukan hanya Flores dan juga bukan hanya Katolik.

“Ketika Frans Seda ada di Flores, dia merupakan orang yang sangat Katolik. Semua permasalahan Katolik seperti yang dikatakan Romo Magnis itu menjadi problem Frans Seda. Ketika dia ada di Yogyakarta, Muntilan, Frans Seda dididik menjadi tokoh nasionalis,”ungkap Akademisi, Peneliti Unika Atma Jaya Jakarta, Dr. Mikhael Dua, Akademisi, Peneliti ketika tampil sebagai salah satu pembicara pada seminar nasional "Merajut Nilai Keutamaan Frans Seda dalam Menata Kemajuan Bangsa" yang diselenggarakan KBM Jaya di Jakarta, Jumat, (20/1/2023)

Pikiran Frans Seda terbuka. Martinus Cobbenhagen (pendiri Universitas Tilburg tempat belajar Frans Seda) merupakan ahli ekonomi yang memberikan spirit untuk memahami masyarakat. Sekolah Katolik di Belanda yang mayoritasnya adalah Protestan, memiliki perjuangan yang sangat berat sehingga membuat masyarakat yang tinggal di selatan berusaha membuktikan kepada pemerintah bahwa mereka juga memiliki peranan.

“Saat bersekolah disana, Frans Seda melihat ada model-model untuk menjembatani antara kepentingan-kepentingan scientific dan sosial yang lebih menyeluruh dan praktis politis. Ilmu yang berhubungan dengan Frans Seda adalah ilmu ekonomi politik. Seperti yang telah disinggung Sri Mulyani bahwa Frans Seda adalah orang ekonomi yang berusaha menaruh perhatian pada kepentingan-kepentingan masyarakat yang lebih luas,”jelas Mikhael Dua.

Menurut Mikahel Dua ini adalah hal penting untuk mengusulkan Frans Seda karena dia memang dididik dengan cara yang sangat intens baik sebagai Katolik maupun sebagai nasionalis dan juga internasional. Karena itu sangat mengharukan ketika dia terlibat perjuangan Irian Barat. “Dalam perspektif Belanda, Frans Seda adalah seorang perantara yang tak tergantikan, sukses diplomatik dan semua mendengarkan kekuatannya di ekonomi. Frans Seda bukan diplomat tetapi efektivitas dalam diplomasi tak tergantikan,”tambahnya.

Mikhael Dua menuturkan bahwa saat ditugaskan menuliskan riwayat Frans Seda untuk kepentingan Yayasan Frans Seda, saya sengaja menempatkan perjuangan di bidang demokrasi, dengan contoh Irian Barat dan Timor Timur. Keadilan sosial bagaimana perjuangan dari kawan-kawan Atmajaya ketika berhadapan dengan Suharto. Rintisan Frans Seda mendapat restu dari Romo Magnis untuk mendirikan pusat perkembangan etika agar apa yang dibicarakan Rerum Novarum sampai dengan Konsili Vatikan ke-2 itu betul-betul efektif dijalankan. Hal ini tidak dapat dilupakan.

Selanjutnya masalah demokrasi, Frans Seda menurut Mikhael Dua, satu-satunya tokoh yang sangat konsisten dengan itu. Ketika kami ingin mendirikan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) tahun 1998-1999, sesaat sebelum saya ke Jerman. Kami diundang dari berbagai kelompok, yakni mantan pejabat Orde Baru, ada kelompok muda, dan Pak Frans Seda di tengah sebagai orang yang mengundang. Dia menegaskan secara sederhana, politik setelah reformasi kita tidak lagi menentukan kawan dan lawan seperti pada era Soekarno dan Soeharto. Pada reformasi bukan menentukan kawan-lawan tapi mencari kawan supaya reformasi bisa jalan. Banyak aspirasi demokrasi dimana Frans Seda pasti tidak mundur atau tidak akan mengatakan tidak kepada demokrasi.

 

 

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru