Loading
Shammie Zacky Baridwan mencatat sejarah sebagai pereli Indonesia pertama yang menjuarai satu etape Rally Dakar setelah menjadi pemenang etape 11 kategori Dakar Classic pada ajang Rally Dakar 2026 di Arab Saudi. (ANTARA/Aditya Ramadhan)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Menjadi pereli Indonesia pertama yang menjuarai satu etape Rally Dakar bukanlah cerita manis tanpa drama. Shammie Zacky Baridwan, sang pencetak sejarah di Dakar 2026, mengungkap bahwa salah satu momen paling berat yang dialaminya adalah ketika mobilnya terperosok dan terjebak di pasir selama tiga jam.
“Titik terendah itu saat mobil kami stuck di padang pasir dan susah evakuasi. Naik turun recovery, pakai alat recovery, buka-tutup safety belt, keluar-masuk mobil di posisi ekstrem,” kata Shammie saat ditemui di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Menurut Shammie, kejadian itu benar-benar menguras fisik dan mental. Apalagi Dakar 2026 digelar di Arab Saudi pada 3–17 Januari 2026, dengan lintasan yang harus dilahap mencapai sekitar 8.000 kilometer.
Di titik tersebut, Shammie menyebut tenaga mereka sudah nyaris habis. Namun ia dan tim tetap memaksa fokus dan menjaga ritme.
“Kita sudah bilang, tenaga mungkin sudah di ujung. Tapi kita manage, istirahat sebentar, lalu jalan lagi, gas lagi,” ujarnya.
Kejar-Kejaran dengan Batas Waktu
Tidak hanya soal kelelahan, Shammie juga menghadapi tekanan dari aturan waktu. Saat terjebak pasir, ia harus berjuang hingga menyentuh batas waktu maksimal yang diperbolehkan dalam satu etape.
Butuh waktu tiga jam untuk menuntaskan rangkaian etape tersebut — dan itu adalah margin yang sangat tipis untuk tetap bertahan di Dakar, yang dikenal sebagai reli paling brutal di dunia.
Shammie bahkan menggambarkan Dakar sebagai ajang ekstrem yang bukan cuma mengandalkan cepat, tapi juga ketahanan mental dan ketepatan eksekusi.“Ini balapan yang ikut orang gila semua, bukan orang normal. Ini bukan balapan normal,” katanya.
Di Dakar, Semua Dipaksa Menyerah
Shammie bercerita, selama berada di jalur lomba, ia kerap melihat “pemandangan biasa” yang sebenarnya mengerikan: mobil terbalik, mobil rusak total dan tak bisa lanjut, hingga peserta yang harus dievakuasi dengan helikopter.
Di Dakar, kata Shammie, setiap pembalap seperti diuji untuk menyerah. Jika mental goyah sedikit saja, balapan bisa selesai saat itu juga.
Satu Etape Bisa 900 Kilometer
Tantangan Dakar bukan hanya medan, tapi juga panjang lintasan. Dalam satu etape, jarak lomba bisa mencapai 500 hingga 900 kilometer. Belum lagi jarak dari perkemahan menuju titik start yang bisa mencapai puluhan kilometer.
Ia menggambarkan perbandingannya seperti ini: kalau perkemahan berada di Kemang, titik start bisa saja ada di Bogor atau Sukabumi.Dengan panjang rute seperti itu, stamina menjadi mata uang utama. Uniknya, Shammie juga mengungkap bahwa selama lomba mereka tidak pernah makan siang.
Balapan dimulai pagi dan baru berakhir sore, sementara kondisi gurun begitu ekstrem: suhu bisa menusuk dingin saat malam dan pagi hari hingga sekitar 9 derajat Celsius, tapi melonjak menjadi lebih dari 40 derajat Celsius saat siang.
Gurun Luas tanpa Tanda, Cuma GPS Jadi Pegangan
Yang membuat Dakar semakin “gila” adalah jalur yang tidak seperti lintasan balap pada umumnya. Tidak ada marka, tidak ada rambu, tidak ada jalur yang terlihat jelas.Lintasan yang dihadapi hanyalah hamparan gurun dan pegunungan batu yang luas, tanpa petunjuk arah. Satu-satunya penuntun adalah GPS, berisi titik dan koordinat yang wajib dipatuhi.
Shammie Ukir Sejarah untuk Indonesia
Di balik semua drama itu, Shammie berhasil mencetak prestasi besar. Ia resmi menjadi pereli Indonesia pertama yang menjuarai satu etape Rally Dakar setelah keluar sebagai pemenang Etape 11 kategori Dakar Classic pada Rally Dakar 2026 di Arab Saudi.
Shammie tampil bersama navigator Ignas Daunoravicius dan menyelesaikan reli dengan total 13 etape sepanjang sekitar 8.000 kilometer. Pada klasemen akhir Dakar Classic, Shammie menempati peringkat tujuh klasemen umum dan finis di posisi ketiga kelas H1—sebuah hasil yang sekaligus menandai debut suksesnya di reli terganas di dunia.