#DirumahAja, Andien dan Mona Ajarkan Petuah Tut Wuri Handayani


 #DirumahAja, Andien dan Mona Ajarkan Petuah Tut Wuri Handayani Anaku Askara Biru, Andien Aisyah,dan Irfan Wahyudi. (Instagram@andienaisyah)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Bagi pasangan Andini Aisyah Hariadi atau populer disapa Andien, menjadi orangtua adalah kebahagiaan tersendiri. Bersama sang suami, Irfan Wahyudi, bunda cantik yang tengah hamil anak ke-dua ini, memilih mengasuh anak secara demokratis dengan memberikan arahan dan dukungan pada si kecil agar bebas dan tak takut untuk berkreasi. Tujuannya tentu seperti yang telah disinggung sebelumnya, yaitu agar Kawa tumbuh jadi anak yang percaya diri.

Hal ini sudah ditegaskan pasangan selebritis ini, sejak putranya, Anaku Askara Biru (3 tahun), dalam kandungan. “Kami sepakat untuk merawat anak seperti suri tauladan Tut Wuri Handayani, dimana sebagai orangtua kami hanya memberikan arahan kepada anak untuk menggapai mimpinya, bukan memaksakan kehendak,” tegasnya.

Tak heran jika saat ditanya apakah Andien akan mengajak Kawa—sapaan sang putra--ke dunia hiburan seperti dirinya, penyanyi jazz cantik ini pun tak mengekang kebebasan anaknya. “Sekarang ini kan Kawa selalu melihat ibunya mulai dari persiapan sebelum acara sampai perform di atas panggung, jadi pasti lama-kelamaan dia akan merasakan sendiri apakah dunia hiburan itu cocok untuk dirinya atau tidak. Saat ini Kawa juga sedang menyukai bermain drum dan gitar, tapi itu bukan berarti dirinya menyukai musik seperti saya bukan? Bisa jadi besok dia bosan dan pindah ke mainan lainnya. Itu sama sekali bukan masalah karena memang jalannya masih panjang,” sambung Andien.

Lebih lanjut meski berstatus sebagai anak selebriti, Andien juga tak ingin buah hatinya tumbuh menjadi anak yang eksklusif alias pilih-pilih teman. Prinsipnya asal bisa membawa pengaruh positif, pelantun lagu Movin On ini ingin Kawa berkawan dengan siapa saja.

“Dibanding memberikan banyak ceramah, anak akan lebih mengerti ketika diberikan contoh. Karenanya saya dan suami selalu memperlihatkan kepada Kawa, bahwa dalam kehidupan sehari-hari, ayah dan ibunya selalu berteman dengan siapapun juga tanpa memandang suku, ras, agama, dan status sosial,” tandasnya.

Falsafah mendidik anak dengan menganut petuah Tut Wuri Handayani ini pun, dijalani Mona Ratuliu bersama sang suami, Indra Brasco.

Ia bertutur, Ing ngarso sung tulodo yang artinya didepan memberi tauladan atau cotoh yang baik. Pada usia 0-5 tahun, pertama kali anak belajar adalah dengan meniru perilaku orang disekitarnya. “Perilaku orang tua yang ditiru oleh anak bukan cuma perilaku yang baik-baik saja lhoooo… Saat orang tua membuang sampah pada tempatnya, ditiru oleh anak. Saat orang tua rajin beribadah, juga ditiru oleh anak. Namun pada saat orang tua marah, memaki, berbohong, juga ditiru oleh anak. Karena itulah proses mendidik anak adalah proses pendewasaan diri bagi orang tua. Karena apabila kita ingin anak kita berprilaku baik, maka yang lebih dahulu kita lakukan adalah memperbaiki diri sendiri,” katanya dalam sebuah kesempatan.

Sedangkan Ing madyo mangun karso artinya ditengah memberikan semangat. Gampangnya, menjadi teman yang asik untuk anak-anak. Pada usia 6-12 tahun, anak sedang asik-asiknya berteman. Menurutnya, berbincang seru dengan temannya adalah aktifitas yang paling disukai anak-anak diusia ini. “Ketika kita berhasil menjadi tauladan yang baik untuk anak-anak, bukan menjadi komandan yang memaksakan anak untuk terus mengikuti perintah kita, maka kita sebagai orang tua memiliki peluang besar untuk jadi teman yang asik buat anak-anak. Kenapa jadi teman yang asik? Karena semua orang nggak akan ada yang mau berteman sama orang yang nggak asik,” papar aktris yang kini juga aktif menjadi host di sebuah stasiun radio di Jakarta itu.

Berikutnya, Tut Wuri Handayani, yang artinya dibelakang memberi dorongan. “ Nanti akan tiba saatnya kita menempati posisi sebagai konsultan. Sebagai kamus. Karena saat usia anak sudah diatas 12 tahun, anak sudah memiliki kewenangan atas dirinya sendiri. Segala tindakan yang dilakukan adalah berdasarkan keputusannya sendiri. Untuk itu, penting membimbing anak untuk belajar mengambil keputusan secara mandiri dan rasional seperti dalam artikel belajar kecewa dengan aman,” ungkap ibu tiga anak yang masih terlihat awet muda.

Ketika anak sudah sampai tahapan ini, anak akan merasa risih apabila orang tua sibuk mengomentari dirinya tanpa diminta. Hal ini hanya membuat anak terganggu dan memilih menjauhi orang tuanya. “Maka tindakan yang perlu diambil orang tua adalah menjadi kamus. Persis seperti kamus, yang diam aja disimpan di rak buku kalau tidak digunakan. Dan hanya memberikan informasi kalau diperlukan saja,” demikian bunda dari Davina Shava Felisa, Barata Rahadian Nezar, dan Syanala Kania Salsabila.


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Parenting Terbaru