Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu saat menyampaikan paparan dalam dialog strategis ASEAN-Kanada mengenai ketahanan energi di Jakarta, Selasa (23/6/2026). (ANTARA/Nabil Ihsan)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan berbagai krisis global yang terjadi secara bersamaan, Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral, Mari Elka Pangestu, mengingatkan pentingnya ASEAN untuk tetap mempertahankan keterbukaan dan tidak meninggalkan semangat multilateralisme.
Menurut Mari Elka, tantangan yang dihadapi kawasan saat ini bukanlah alasan untuk menarik diri dari kerja sama internasional. Sebaliknya, ASEAN perlu membangun ketahanan yang lebih kuat tanpa mengorbankan prinsip keterbukaan yang selama ini menjadi fondasi pertumbuhan kawasan.
“Tugas kita saat ini bukan menarik diri dari keterbukaan, melainkan membangun ketahanan sebagai sistem yang tetap terbuka dan memperkecil kesenjangan antara ambisi dan kemampuan untuk mewujudkannya,” ujar Mari Elka dalam Dialog Strategis ASEAN-Kanada tentang Ketahanan Energi di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Keterbukaan Jadi Fondasi Kemajuan ASEAN
Mari Elka menjelaskan bahwa selama lebih dari empat dekade, keberhasilan pembangunan ASEAN tidak lepas dari komitmen kawasan terhadap pasar yang terbuka, kepastian aturan, serta hubungan yang stabil dengan berbagai mitra global.
Baca juga:
Iran Kirim Sinyal Gencatan Senjata ke AS Lewat Perantara, Kontak Tak Langsung Masih BerjalanModel pembangunan tersebut telah membawa dampak besar bagi kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi meningkat, jutaan warga berhasil keluar dari kemiskinan, dan ASEAN berkembang menjadi salah satu kawasan paling terbuka di dunia.
Namun, kondisi global saat ini menunjukkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.
ASEAN Menghadapi Polycrisis
Mari Elka menilai ASEAN kini berada di tengah situasi yang disebut sebagai polycrisis, yakni kondisi ketika berbagai krisis terjadi secara bersamaan dan saling memengaruhi.
Krisis tersebut mencakup dampak pandemi COVID-19, perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi global, perkembangan teknologi yang sangat cepat, hingga melemahnya semangat multilateralisme di berbagai belahan dunia.
Kondisi ini, menurutnya, memperlihatkan sejumlah kerentanan yang perlu segera diantisipasi oleh negara-negara ASEAN.
Karena itu, persoalan keamanan energi, krisis iklim, dan gejolak geopolitik tidak dapat dihadapi dengan pendekatan jangka pendek. ASEAN membutuhkan respons yang lebih struktural, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Ketahanan Energi Jadi Prioritas
Dalam kesempatan tersebut, Mari Elka juga menyoroti pentingnya memperkuat ketahanan energi kawasan. Salah satu langkah strategis yang perlu dipercepat adalah pengembangan jaringan listrik regional ASEAN Power Grid.
Selain itu, ASEAN juga didorong untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber energi berkelanjutan seperti tenaga surya, tenaga air, dan energi panas bumi (geotermal).
Menurutnya, diversifikasi sumber energi menjadi langkah penting agar kawasan tidak terlalu bergantung pada satu sumber atau jalur pasokan tertentu.
“Mari kita lakukan diversifikasi energi dan jangan biarkan satu disrupsi membawa konsekuensi yang begitu besar bagi ekonomi kita,” katanya dikutip Antara.
Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan energi terbarukan dinilai mampu memperkuat kemandirian energi negara-negara ASEAN karena sebagian besar sumbernya tersedia di dalam negeri.
Belajar dari Pengalaman Krisis
Mari Elka mengingatkan bahwa ASEAN selama ini dikenal sebagai kawasan yang mengedepankan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai risiko. Salah satu contohnya adalah keberadaan ASEAN Petroleum Security Agreement (APSA) yang telah berlaku sejak 1986 sebagai mekanisme kerja sama menghadapi gangguan pasokan energi.
Ia mengaku optimistis melihat semangat tersebut masih terus dijaga hingga saat ini. Menurutnya, respons para pemimpin ASEAN terhadap potensi dampak krisis di Selat Hormuz menunjukkan bahwa kawasan tetap mampu bergerak cepat dan terkoordinasi menghadapi ancaman global.
Bagi Mari Elka, masa depan ASEAN akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara keterbukaan ekonomi, kerja sama internasional, dan penguatan ketahanan kawasan di tengah dunia yang semakin tidak pasti.
Dengan tetap terbuka, memperkuat kerja sama regional, dan mempercepat transisi energi berkelanjutan, ASEAN diyakini dapat menghadapi berbagai tantangan global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi kawasan.