Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun (Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pakar Hukum Tata Negera Refly Harun mengatakan untuk menjadi netral itu tidak selalu berada di tengah.
Menurut dia lagi yang lebih penting netral itu membenarkan yang anggap benar dan mengkrtik yang dianggap salah tentu hal ini berdasarkan sebatas pengetahuan yang kita miliki.
Hal itu diungkapkan Refly melalui akun Twitternya @ReflyHZ yang diunggahnya Selasa (4/9/2018).
“Menjadi netral itu tidak mesti selalu di tengah. Yang lebih penting, membenarkan yang dianggap benar dan mengkritik yang dianggap salah. Tentu sebatas pengetahuan yang kita punya,” tulis Refly Selasa (5/9/2018).
Cuitan Refly pun direspon oleh warganet dengan berbagai komentar. Berikut berbagai komentar dari warganet yang terpantau, Kamis (5/9/2018).
Baca juga:
Politisi Ini Sebut Keputusan Yusril Jadi Pengacara Jokowi-Ma‘ruf Pengaruhi Afiliasi Politik PBB@dannywiradharma: Seperti kata Uskup Desmond Tutu: "Bila kamu netral saat melihat seseorang ditindas, kamu sudah memihak orang yang menindas"
@Mangyana7: Netral di jaman sekarang, hanya untuk orang2 yang gk peduli... Urusan benar dan salah bukan bagian dari masyarakat kecil kaya saya... Memperjuangkan perubahan adalah sikap realistis yang harus di ambil... @itu_dodif: Saya setuju bang benar ya katakan benar salah ya bilang salah baru itu adil namanya
@Karyono31697241: Benar dan salah sudah jelas, tapi seringkali membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar , menurut saya wasit harus bersikap netral sedangkan hakim harus adil.
@thomasatmojo75: Netral diantara 2 kubu tp tetap aktif mengkritisi mana yg salah mana yg benar itu yg dibutuhkan masy dewasa ini agar semakin dewasa dlm berdemokrasi paham politik, teruskan bang Refly Harun
@ZuriatR: yg pasti tak abu2 bang... netral itu memajukan pikiran berdasarkan aturan. bukan berdasarkan asumsi...ilmu berdasarkan asumsi pribadi artinya cari selamat sendiri.
@SyamsuddinBahr2: Setuju prof, biasanya netral seseorang itu akan disalah maknain oleh kelompok kepentingan tertentu, yang disebabkan #panik, #resah dan #frustasi sehingga memunculkan perbuatan yang melanggar kultur sosial dan hukum.