Booming Informasi vs Ketakutan, Alienasi dan Absurditas Manusia


 Booming Informasi vs Ketakutan, Alienasi dan Absurditas Manusia Pemerhati masalah Budaya dan HAM, Simply Yuvenalis. (Foto: Istimewa)

Oleh: Simply Yuvenalis

INFORMASI adalah bagian dari komunikasi antara manusia, dan melekat dengan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial. Komunikasi terjadi secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan media; seperti media cetak, media elektronik dan cyber digital. Isi komunikasi macam-macam sesuai dengan keperluan dan tujuan pihak yang hendak menyampaikan informasi.

Dalam dunia milenial ini, sedang terjadi banjir informasi melalui berbagai media cetak, elektronik dan digital. Masing-masing pihak yang memproduksi informasi memiliki kepentingannya, dengan sasaran penerima informasi yang berbeda-beda. Ada yang bersifat hiburan, promosi, pendidikan, politik, ekonomi, keuangan, hukum, keagamaan, seni budaya, dan macam ragam lainnya. Di pihak penerima informasi, tergantung akses dan kepemilikan media serta kepentingannya dengan informasi.

Yang menarik adalah fenomena digital karena sebagian besar manusia zaman now memiliki sarana digital, gadget, yang bisa saja menerima informasi yang tidak dikehendaki pemilik gadget. Misalnya iklan makanan, iklan barang elektronik atau info dari lembaga publik, yang secara sistemik masuk ke gadget tanpa diminta pemilik.

Lebih dari hal itu, zaman digital ini telah menciptakan 'kultur baru' yakni booming informasi, yang pada gilirannya membentuk opini publik bahkan memiliki super power untuk melahirkan kebenarannya. Salat satu dasarnya adalah karena cepat sampai kepada setiap pribadi dan luas jangkauannya. Lalu kebenaran tidak lagi berdasarkan fakta obyektif dan kualitas isi, tetapi karena jumlah mayoritas sebaran informasi. Akibatnya antara lain, semakin banyak mereferensi cara pikir dan tindakannya pada mayoritas informasi di media digital, bukan mencerna dan merujuk pada kebenaran faktual realitas. Semakin sirna soal kepakaran dan keilmiahan, dan hoaks alias berita bohong bisa lebih dipercaya dan lebih mempengaruhi cara berpikir bahkan perilaku dan rasa.

Budaya instant, kemudahan informasi yang disiapkan media digital ternyata tidak saja membantu kehidupan, tetapi sekaligus berdampak negatif bagi manusia. Dengan kemudahan media digital, sangat banyak hal privat pun bisa tersebar di ruang publik, sehingga hampir terjadi dunia tanpa batas. Ketika pilihan lebih pada hal instant, lalu manusia malas menggunakan pikiran untuk mengkaji dan mengkritisi kebenaran informasi, maka manusia bisa dikendalikan cara berpikir, perilaku dan emosionalnya. Jauh lebih parah adalah manusia bisa terasing dengan dirinya, sesamanya, budayanya, bahkan pegangan imannya.

Contohnya yang sedang terjadi sekarang tentang berita kekerasan dan kekejaman kelompok radikal, perang, aliran radikal, bencana alam dan prediksi cuasa ekstrim serta gempa megatrust, wabah penyakit, kasus korupsi, kekerasan dalam rumah tangga, dan masih banyak kasus lain yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan yang mencekam kehidupan manusia di dunia.

Ternyata, booming informasi yang memudahkan dan instant disediakan media digital, tidak sebanding dengan kecepatan berpikir dan meningkatnya kapasitas mencerna mayoritas manusia di dunia, termasuk kita di Indonesia. Apalagi denga kemampuan rekayasa komputer, informasinya dalam bentuk audi-visual yang disajikan secara fulgar. Salah satu efeknya adalah menciptakan rasa ketakutaak secara massal dan melahirkan berbagai perilaku yang aneh-aneh, baik di dalam keluarga maupun dalam ruang publik antar sesama.

Untuk menjadi bahan refleksi, saya kutip tulisan Anthony De Mello berikut:"Wabah sedang menuju ke Damaskus, dan melewati seorang kafilah di padang gurun. Mau mana kau wabah?" tanya kafilah."Mau ke Damaskus, mau merenggut 1000 nyawa".Sekembalinya dari Damaskus, si wabah ketemu lagi sama kafilah itu, dan kafilah protes, "Hai wabah, kau merenggut 50.000 nyawa, bukan 1000 seperti katamu""Tidak", kata wabah, "Aku beneran ambil 1000 nyawa, sisanya mati karena ketakutan"

Ketakutan karena booming informasi, yang tidak mampu disikapi secara bijak, karena terima informasi tanpa dicerna, tidak memiliki kedewasaan emosional, tidak kuat benteng nilai dan iman, bisa mematikan seseorang. Ketidaktahuan atau kebodohan, apalagi karena pola hidup instan dan hedonistik, rapuhnya akar budaya dan iman, sungguh menjadi ancaman yang mematikan. Jauh lebih bahaya daripada wabah yang mematikan, bencana alam dan berbagai bentuk kekerasan lain yang sedang melanda kehidupan dunia.

Tantangan global milenial, tidak saja kemajuan teknologi informasi, tatapi ke dalam adalah kualitas kepribadian utuh untu mampu survive dengan berbagai tantangan zaman. Maka sungguh mendesak dan prioritas adalah membangun solidaritas sosial, dan membangun sumber daya manusia berkualitas utuh; nyali dari keluarga. Semua orang membutuhkan fisik sehat (physical quotation-PhQ), kematangan emosional (Emotional quaotation-EQ), kecerdasan intelektual (Intelectual quotation-IQ), kekayaan nilai dan moralitas (morality quotation-MQ) dan kekuatan spiritualitas (Spiritual Quotation-SQ).

Proses untuk mendapatkan pribadi utuh yang demikian adalah pembanguan sumber daya manusia melalui pendidikan yang memerdekakan manusia dan pendidikan integral memanusiakan manusia untuk membangun kehidupannya secara mandiri dan kolaboratif dengan sesamanya di tengah alam semesta. Dengan demikian, ketakutan semakin diminimalisir dan dikelola agar tidak menyebabkan pola pikir yang alienatif dan absurd, serta tindakan yang sembrono dan brutal.

Penulis adalah Pemerhati masalah Budaya dan HAM, tinggal di Jakarta.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru