Loading
arsda TNI Budhi Achmadi. (Foto: Istimewa)
Oleh: Marsda TNI Budhi Achmadi
Kepala Pusat Pengkajian Strategi Penelitian dan Pengembangan Tentara Nasional Indonesia (Kapusjianstralitbang TNI)
DI TENGAH dunia yang makin tidak pasti, Iran menawarkan satu pelajaran penting: tekanan tidak selalu melemahkan—kadang justru memaksa sebuah negara menjadi mandiri.
Selama puluhan tahun berada di bawah sanksi dan embargo, Iran tidak punya banyak pilihan. Ketika negara lain bisa membeli atau bekerja sama dalam pengembangan alutsista, Iran harus berjalan sendiri. Dari keterpaksaan inilah lahir apa yang dikenal sebagai kemandirian terpaksa (enforced autonomy) dalam industri pertahanan.
Tiga Jalan Industrialisasi Pertahanan
Dalam kajian klasik Keith Krause, ada tiga model besar industrialisasi pertahanan di dunia.
Pertama, kemandirian penuh (full autonomy). Negara seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok menguasai seluruh rantai produksi—dari riset hingga ekspor. Ini adalah model ideal, tapi mahal dan membutuhkan konsistensi lintas dekade.
Kedua, semi mandiri (semi autonomy), yang banyak ditempuh negara Asia Timur seperti Korea Selatan dan Jepang. Mereka membangun kemampuan industri melalui kerja sama, transfer teknologi, dan lisensi. Cara ini lebih realistis, tetapi tetap menyisakan ketergantungan.
Ketiga, kemandirian terpaksa (enforced autonomy)—dan di sinilah Iran berdiri.
Iran: Ketika Tidak Ada Pilihan Selain Mandiri
Pasca Revolusi Islam 1979, Iran kehilangan akses terhadap sistem pertahanan Barat. Situasi memburuk saat Perang Iran–Irak berlangsung di era 1980-an. Suku cadang terhenti, dukungan teknis hilang, dan ketergantungan pada sistem lama berubah menjadi kelemahan serius.
Dalam kondisi seperti itu, Iran tidak bisa memilih jalur kerja sama internasional. Mereka dipaksa untuk berinovasi dari dalam.
Strateginya tidak mengejar kesempurnaan teknologi ala Barat. Iran justru fokus pada efektivitas dan daya tangkal. Hasilnya terlihat pada pengembangan:
Alih-alih membangun sistem mahal, Iran memilih sistem yang lebih sederhana, terjangkau, tetapi punya dampak strategis besar.
Konsistensi: Kunci yang Sering Dilupakan
Salah satu kekuatan Iran bukan hanya teknologinya, tetapi konsistensi kebijakan.
Selama lebih dari empat dekade:
Industri pertahanan terus dikembangkan
Militer, riset, dan industri terintegrasi
Fokus nasional tidak berubah meski dinamika politik terjadi
Hasilnya, Iran mampu membangun citra sebagai negara dengan daya tahan tinggi di tengah tekanan global.
Apa Relevansinya untuk Indonesia?
Indonesia jelas berbeda. Kita tidak berada dalam situasi embargo seperti Iran, dan memiliki posisi geopolitik yang lebih terbuka.
Namun, ada pelajaran penting yang bisa diambil.
Indonesia tidak harus memilih satu model. Justru yang paling realistis adalah menggabungkan dua pendekatan:
Fokus bisa diarahkan pada:
Kuncinya adalah tidak berhenti di perakitan, tetapi benar-benar menguasai teknologi inti.
Refleksi: Industri Pertahanan Bukan Proyek Jangka Pendek
Sering kali industri pertahanan dipandang dari sisi ekonomi: untung atau tidak. Padahal, ini adalah proyek kebangsaan jangka panjang.
Indonesia sebenarnya pernah mencoba pendekatan serupa pada era 1980–1990-an. Namun, inkonsistensi kebijakan membuat momentum itu tidak berlanjut.
Padahal, jika ada satu pelajaran paling penting dari Iran, itu adalah ini:
Kedaulatan Tidak Pernah Gratis
Iran menunjukkan bahwa tekanan bisa menjadi katalis inovasi. Bukan berarti harus ditiru sepenuhnya, tetapi dipahami esensinya.
Dunia hari ini semakin kompetitif dan tidak selalu ramah. Indonesia mungkin tidak menghadapi embargo, tetapi tetap harus siap menghadapi skenario terburuk.
Karena pada akhirnya, kedaulatan bukan sesuatu yang datang dengan mudah—ia dibangun, dijaga, dan diperjuangkan.