Virus Corona Hanya Cambuk Kecil, Perlu Tobat Nasional dan Ruwatan Nusantara


 Virus Corona Hanya Cambuk Kecil, Perlu Tobat Nasional dan Ruwatan Nusantara Ilustrasi: Virus Corona. (Net)

Oleh: Simply Yuvenalis

SALAH satu persoalan menakutkan bangsa kita, bahkan dunia saat ini adalah ketakutan akan virus mematikan Covid19. Sebegitu menakutkan, bukan hanya karena virus itu berbahaya, melainkan karena kemudahan akses informasi yang membanjiri setiap orang tentang ganasnya virus ini yang menyerang berbagai manusia di berbagai negara. Dan sekarang di Indonesia, sehingga sangat banyak orang panik dan sangat ketakutan.

Kematian ribuan orang dan ratusan ribu yang sedang dirawat di berbagai negara, menjadi berita yang mencekam dan menakutkan. Dikhawatirkan, orang yang sangat ketakutan justru bisa mati karena ketakutan itu, bukan karena virus itu. Informasi justru menjadi sumber penyakit mematikan, bukan sarana penolong manusia.

Penjelasan dari pihak medis tentang gejala penyakit, cara mencegah dan mengantisipasi diri disosialisasikan. Upaya menemukan obat penangkal virus dan penyembuh pasien dilakukan dimana-mana oleh para ahli medik. Pemerintah berbagai negara mengupayakan solusi untuk warganya, baik yang sudah terkena serangan maupun melindungi yang belum terjangkit dengan berbagai kebijakan.

Pihak lembaga agama pun menghimbau untuk menjaga kesehatan umatnya, dengan berbagai informasi, termasuk saat beribadah. Media massa pun dengan berbagai upaya menyebarkan informasi dari berbagai kalangan tersebut.

Namun, reaksi masyarakat luas, sesuai dengan kapasitas dan latar belakangnya, ternyata berbeda-beda. Salah satunya yang sangat mencolok adalah kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. Ada yang memborong sembako untuk bertahan beberapa bulan agar tidak keluar rumah. Maksudnya bisa mengisolasi diri dari berbagai kegiatan agar tidak berinteraksi dengan berbagai kalangan di luar rumahnya. Ada yang mengunakan pelindung tubuh secara istimewa, agar jangan terkena virus.

Agak aneh, ketika ada yang memanfaatkan kesempatan musibah ini dengan mencari keuntungan. Misalnya, membeli masker dan menimbun, lalu menjual kembali dengan harga sangat fantastis. Membeli dengan harga belasan ribu/biji, lalu menjual dengan harga puluhan ribu bahkan ratusan ribu. Lahirlah anomali sosial dan kehilangan nurani kemanusiaan yang beradab justru saat ada masalah dan musibah.

Teringat saat bencana alam dan wabah penyakit yang mendunia ini, ada aspek yang layak direnungkan dan bisa dilakukan bersama, sehubungan dengan dimensi budaya dan spiritual dalam eksistensi manusia.

Sang Pencipta adalah asal mula, penyelenggara dan tujuan hidup semua orang. Hakekatnya, hidup mati kita dalam kebesaran misteri dan kuasa Sang Pencipta. Itulah pesan sang pemusik legendaris Ebiet G Ade, dalam lagu: "Untuk Kita Renungkan", sebagai berikut:

"Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih,Suci lahir dan di dalam batinTengoklah ke dalam sebelum bicaraSingkirkan debu yang masih melekat.Singkirkan debu yang masih melekat.Du du du du du du du oh oh oh

Anugerah dan bencana adalah kehendakNyaKita mesti tabah menjalaniHanya cambuk kecil agar kita sadarAdalah Dia di atas segalanya oh oh.Adalah Dia di atas segalanya.Anak menjerit-jerit, asap panas membakarLahar dan badai menyapu bersihIni bukan hukuman, hanya satu isyaratBahwa kita mesti banyak berbenah

Memang, bila kita kaji lebih jauhDalam kekalutan, masih banyak tanganYang tega berbuat nista... oh

Tuhan pasti telah memperhitungkanAmal dan dosa yang kita perbuatKemanakah lagi kita kan sembunyiHanya kepada Nya kita kembaliTiada yang bakal bisa menjawabMari hanya tunduk sujud padaNya..."

Sehubungan dengan pesan lagu tersebut, kiranya layak dan pantas diimbau dan diusulkan beberapa hal berikut:Pertama, sebagai bangsa beragama dan kepercayaan di Indonesia, perlu ada gerakan Tobat Nasional, yang dilakukan tiap pribadi, dalam lingkungan agama dan kepercayaan masing-masing, yang kiranya dapat difasilitasi oleh para pemimpin masing-masing. Lalu lintas agama kepercayaan secara serentak-Nasional yang difasilitasi waktunya oleh Menteri Agama dan Pemerintah Pusat.

Ada upacara Tobat Nasional menurut agama kepercayaan masing-masing pada waktu yang bersamaan selama 1-3 hari, dilanjutkan dengan doa bersama lintas agama-kepercayaan untuk memohon pembersihan bala bencana alam maupun penyakit dari bangsa kita serta dunia. Lalu media informasi membantu menyosialisasikan persiapannya maupun memberitakan pelaksanaannya.

Kedua, ritual adat Ruwatan Bersih Bumi untuk penolakan bala bencana dan salah dosa segenap anak bangsa, sesuai khasanah ritual adat budaya masing-masing. Kegiatan dilakukan dalam kurun waktu yang sama secara Nasional, misalnya selama seminggu di seluruh Nusantara, Sabang-Merauke. Dari data dan fakta yang kita miliki, setiap suku dan komunitas adat budaya di Indonesia memiliki khasanah luhur tersebut.

Semangat dan gerakan spiritual ini pun kiranya difasilitasi oleh Pemerintah secara Nasional-sebuah bentuk Tobat Nasional, dan dilaksanakan di masing-masing tempat dalam kurun waktu tertentu-misalnya seminggu, serta didukung pemerintah daerahnya masing-masing. Tujuan dan isi doanya tetap sama, yakni dengan cara ritual adat budaya, memohon ampun kepada Sang Pencipta, melakukan Tobat Nasional, Bersih Bumi dan menolak bala bencana alam serta wabah penyakit dan berbagai penyakit sosial-moral.

Kita bangsa beriman kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, kita memiliki budaya adiluhung dengan khasanah spiritualitas dalam adat budaya yang sangat sakral. Juga kita memiliki kesadaran rasional yang bisa merenungkan tentang salah dosa secara pribadi dan kolektif, keterbatasan manusia serta ketergantunag mutlak kepada alam semesta dan Sang Pencipta. Jadi solusi berbagai bala bencana, tidak saja kehebatan teknologi medik, tetapi juga kekuatan kearifan spiritualitas dalam agama kepercayaan dan adat budaya.

Mari bersih, suci lahir dan di dalam bathin, berusaha agar Sang Pencipta tersenyum, karena adalah Dia di atas segalanya, mari tunduk sujud padaNya.

Sebab, pada hakekatnya, tanpa manusia, alam semesta berjalan dengan hukumnya dan lestari. Tetapi, tanpa alam lingkungan semesta, yang sering dipakai manusia dengan kurang tanggung jawab, kita manusia pasti mati dan punah. Manusia diciptakan Sang Khalik dari alam semesta dengan kuasaNYA maha misteri.

Dengan Tobat Nasional dan Ruwatan Nusantara, kita sama sama berusaha membuat DIA-Sang Pencipta tersenyum.

Penulis adalah Pemerhati masalah Budaya dan HAM, tinggal di Jakarta.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru