Loading
Pasangan suami istri mana pun pasti berharap perkawinannya langgeng dan diliputi kebahagiaan selamanya. (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pasangan suami istri mana pun pasti berharap perkawinannya langgeng dan diliputi kebahagiaan selamanya. Untuk membuat visi itu dapat terus bertahan, dibutuhkan upaya terus-menerus dan tak kenal lelah dari pasangan. Apalagi jika di kemudian hari perkawinan menemui masalah yang bahkan tak terbayangkan di saat pasangan memutuskan untuk menikah.
Ada teori yang menyatakan, suatu perkawinan menghadapi masa rawan hingga usia sepuluh tahun. Entah, apa dasar teori itu. Bisa jadi, lantaran pada masa ini dua insan yang mempunyai perbedaan latar belakang tengah disatukan. Seandainya terjadi ketidakcocokan, bukan tidak mungkin tergelincir dalam perceraian.
Oleh karena itu pasangan harus mengenali tahun-tahun rawan dalam perkawinan yang perlu diwaspadai. Pasangan yang bisa melewati masa ini adalah mereka yang selalu punya pandangan positif terhadap pasangannya, tidak mudah menyerah, dan mau bersama-sama mencari jalan keluar dari setiap persoalan. Meski tahun-tahun pertama ini sulit, mereka akan tetap mengenangnya sebagai tahun-tahun pertama yang penuh keintiman, kemesraan, dan saling belajar. Yang tak kalah penting, bisa menjadi pelajaran serta pengalaman berharga untuk menempuh tahun-tahun berikut.
Ketika usia pernikahan memasuki usia setelah tujuh tahun, maka banyak suami-istri mulai terjebak dalam rutinitas berumah tangga. Suami dan istri juga mulai sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Ibu mengurusi anak-anak yang mulai masuk sekolah dan tumbuh besar, ayah juga sibuk berkutat dengan kariernya yang semakin menjanjikan. Belum lagi tuntutan kebutuhan keluarga yang semakin besar, membuat ayah semakin sibuk dengan pekerjaan tambahan yang menghasilkan uang. Semua itu membawa konsekuensi dalam hubungan pernikahan, karena masing-masing sibuk, waktu untuk berduaan semakin berkurang.
Akibatnya, keintiman jadi terancam. Untuk menjaga agar gairah dan keintiman tetap menyala, maka sebaiknya pasangan melakukan bulan madu kedua, merevisi kembali hubungan perkawinan dan pola keintiman apa yang bisa diterapkan, sesuai dengan usia perkawinan.
Baca juga:
Yuk, Kenali Masa Rawan Pernikahan
Saat usia pernikahan menginjak usia lima belas tahun, meski ekonomi rumah tangga sudah mapan, problem yang lebih banyak muncul adalah kejenuhan. Ditambah juga kebersamaan keluarga yang semakin berkurang. Misalnya, anak-anak yang memasuki praremaja, mulai lebih banyak bergaul di luar rumah, dan sibuk dengan urusan sekolah. Ayah berada pada puncak kariernya, begitu pula ibu yang bekerja.
Perubahan fisik masing-masing pihak, misalnya bentuk tubuh semakin melebar atau kerut di wajah semakin kentara, juga melahirkan kecemasan tersendiri. Masing-masing merasa tidak lagi menarik dan seksi di mata pasangannya. Rasa minder lalu timbul.
Kekhawatiran pasangan tak lagi bergairah, bisa berakibat ke hubungan intim. Di masa ini pasangan diharapkan melakukan berbagai variasi untuk memberi pembaruan dengan mulai memberi kejutan-kejutan yang manis, misalnya mengirim SMS, WA pada pasangan.
Bagaimana dengan tahun-tahun sesudahnya? Simone Signoret, penulis terkenal dari Perancis, di salah satu novelnya menulis,”Rantai tidak mengikat pernikahan, melainkan mata rantainya. Ratusan mata rantai yang dikait setiap hari berdua, yang mengikat terus selama bertahun-tahun. Itulah yang membuat pernikahan bertahan, bukan gairah dan bahkan juga seks.
Ancaman kerawanan pernikahan itu tidak mengenal batasan usia. Kevin Costner dengan Cindy Silva misalnya harus berakhir setelah berumah tangga 16 tahun. Michael Douglas dengan Diandra Lurker yang dikaruniai satu anak kandas setela 23 tahun.
Nanna Machdi, psikolog dari Universitas Indonesia, tidak setuju pada teori masa rawan perkawinan. Menurut dia, masa rawan dalam perkawinan tidak bisa ditentukan. Tergantung bagaimana kita menghayati perkawinan itu sendiri. Kalau ada saling pengertian, saling mencintai, saling menerima pasangan, harusnya rasa jenuh dan ketidakcocokan bisa ‘dialihkan’ sehingga tidak akan muncul lagi.
Menurut Nanna, komunikasi yang baik adalah bagaimana pasangan menyampaikan maksud hati dan dapat dimengerti pasangan. Namun yang terpenting, pasangan meresponnya. Demi keberhasilan komunikasi dalam kehidupan perkawinan, Nanna mengingatkan juga agar kedua pihak mengalahkan ego masing-masing.
Tak hanya komunikasi, pasangan juga perlu belajar untuk saling mengerti satu sama lain agar hubungan tetap terbina baik. Dengan begitu, adanya ketidakcocokan akan dapat diatasi.(Berbagai sumber)