Kamis, 15 Oktober 2026

Dikerjakan 20 Menit di Sela Menyusui, Bisnis Ibu Muda Ini Tembus Rp1,4 Miliar per Bulan


 Dikerjakan 20 Menit di Sela Menyusui, Bisnis Ibu Muda Ini Tembus Rp1,4 Miliar per Bulan Julia Holden, perempuan 34 tahun asal New Jersey, Amerika Serikat dan ilustrasi bayi. (Foto: Ilustrasi)

MENJADI ibu baru sering kali identik dengan kurang tidur, jadwal berantakan, dan energi yang terkuras. Namun, bagi Julia Holden, kondisi itu justru melahirkan sebuah ide bisnis yang kini bernilai besar.

Perempuan 34 tahun asal New Jersey, Amerika Serikat, ini memulai usaha sampingan hanya dari kegelisahan sederhana: bagaimana membuat bayinya tidur lebih nyenyak.

Pada Februari 2024, Holden dan suaminya menyadari satu hal unik. Putra mereka yang baru lahir, Maxime, lebih cepat terlelap ketika matanya ditutup lembut menggunakan kain kecil. Sayangnya, produk penutup mata bayi yang aman, nyaman, dan tidak mudah lepas hampir mustahil ditemukan di pasaran.

Sebagai ibu baru yang hidup dalam “mode bertahan hidup”, Holden sempat ingin membeli produk jadi. Tapi karena tak menemukan yang sesuai, satu pikiran lama kembali muncul: kenapa tidak membuatnya sendiri?

Dari situlah cikal bakal Sleepy Hat lahir—topi bayi dengan penutup mata terintegrasi.

Merintis dari Nol, Modal dari Tabungan Pribadi

Holden menghabiskan hampir US$16.000 (sekitar Rp250 juta) dari tabungan pribadinya untuk membangun Sleepy Hat. Biaya itu mencakup desain produk, pembuatan pola, prototipe, sampel, hingga hal-hal kecil yang sering luput dihitung: domain website, merek dagang, dan tampilan visual profesional.

Menariknya, Holden tidak memiliki latar belakang desain. Pola pertama bahkan salah ukuran. Ia juga sempat mengalami kerugian sekitar US$1.500 karena “paket teknis” yang kurang detail saat bekerja sama dengan pabrik di Tiongkok.

Namun, alih-alih menyerah, ia terus memperbaiki desain, hingga akhirnya memesan 1.500 unit pertama.

Dikerjakan 20 Menit, di Antara Waktu Menyusui

Saat itu, Holden masih bekerja penuh waktu sebagai manajer hubungan senior di perusahaan periklanan. Sleepy Hat ia kerjakan di sela-sela waktu menyusui—kadang hanya 20 menit per sesi.

Tanpa investor, tanpa tim besar, dan tanpa pengasuh anak, ia membangun bisnis ini dari rumahnya di Lawrence Township. Bantuan hanya datang dari keluarga.

“Saya tidak punya dana eksternal. Tidak ada tim. Tidak ada pengasuh,” ujarnya.

Penjualan Pertama dari Orang Asing yang Mengubah Segalanya

Website Sleepy Hat resmi diluncurkan pada September 2024. Awalnya, penjualan nyaris tidak terasa. Hingga akhirnya, pada Desember 2024, Holden memposting produknya di marketplace Grommet.

Tahun itu ditutup dengan total penjualan hampir US$2.000.

“Penjualan pertama saya dari orang asing benar-benar mengubah hidup saya,” kata Holden. Ia mengaku sangat gembira, tapi juga takut saat harus benar-benar mengirimkan produk ke pelanggan pertamanya.

Kisah ini dikutip dari cnbc.com, yang menyoroti bagaimana momen kecil sering menjadi titik balik besar dalam perjalanan wirausaha.

TikTok, Amazon, dan Lonjakan Penjualan

Pada Agustus 2025, Holden mulai menjual Sleepy Hat melalui Amazon sebagai penjual pihak ketiga. Di waktu yang hampir bersamaan, akun TikTok Sleepy Hat mulai viral.

Video-video sederhana tentang bayi “FOMO” yang sulit tidur meraih ratusan ribu penayangan. Para ibu saling berbagi pengalaman di kolom komentar—dan banyak yang merasa butuh produk ini.

Sejak Juni 2025, Sleepy Hat rutin mencetak pendapatan lima digit per bulan. Bahkan, pada Desember, omzetnya menembus lebih dari US$90.000, disusul US$69.000 pada Januari.

Berani Resign, Fokus Penuh pada Bisnis

Oktober 2025 menjadi titik penting. Holden memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya yang bergaji US$95.000 per tahun demi fokus penuh pada Sleepy Hat.

Sebagian besar keuntungan bisnis ia putar kembali: membayar dua kontraktor paruh waktu untuk mengelola inventaris dan iklan Google serta Amazon, serta merekrut seorang penasihat bisnis yang juga mendapat porsi saham.

Meski hanya membayar dirinya sendiri US$2.500 sepanjang 2025, Holden merasa keputusannya tepat.

“Saya masih stres,” katanya, “tapi karena alasan yang jauh lebih bermakna.”

Mimpi Menuju Penghasilan Enam Digit

Kini, target Holden jelas: meningkatkan gajinya sendiri setiap kuartal dan dalam waktu dekat melampaui penghasilan saat bekerja kantoran.

Ia juga terus belajar soal keuangan—dari memahami arus kas hingga membaca neraca—sesuatu yang dulu ia hindari.“Sebagai founder, Anda harus tahu ke mana setiap dolar pergi,” ujarnya.

Dan satu pelajaran terpenting yang ia pegang teguh: percaya pada intuisi sendiri, bahkan ketika orang terdekat meragukan langkah kita.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Arah Preneur Terbaru