Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso memberi keterangan ketika ditemui di Jakarta, Kamis (17/7/2025). (ANTARA/Putu Indah Savitri)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – PT Pertamina (Persero) tengah menjajaki peningkatan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Amerika Serikat menjadi 60 persen dari total kebutuhan nasional. Langkah ini sejalan dengan hasil negosiasi perdagangan antara Indonesia dan AS yang menghasilkan penurunan tarif bea masuk terhadap produk Indonesia di Negeri Paman Sam.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyampaikan bahwa saat ini porsi impor LPG dari AS telah mencapai 57 persen dan ke depan ditargetkan naik secara bertahap menjadi 60 persen.
“Porsi impor LPG dari Amerika Serikat sudah besar, dan memang sedang dijajaki peningkatannya menjadi 60 persen. Ini masih dalam proses pembahasan,” ujar Fadjar saat ditemui di Jakarta, Kamis (17/7/2025).
Belum Ada MoU Baru untuk LPG, Fokus pada Crude Oil
Meskipun wacana peningkatan impor sudah bergulir, Fadjar menegaskan bahwa belum ada nota kesepahaman (MoU) baru yang ditandatangani terkait impor LPG dari AS. Adapun MoU yang sudah diteken dengan mitra AS saat ini hanya mencakup pembelian minyak mentah (crude oil).
“Untuk LPG belum ada MoU baru, tapi ekspektasinya memang ada kenaikan bertahap,” tambahnya.
Bukan Menambah Volume, Tapi Alihkan Asal Negara Impor
Pertamina memastikan bahwa peningkatan porsi impor dari AS tidak berarti menambah total volume impor LPG Indonesia. Strategi yang diambil lebih kepada pengalihan negara asal impor, memanfaatkan momen berakhirnya kontrak jangka pendek dengan negara lain.
“Jadi bukan nambah volumenya, tapi memindahkan asalnya ke AS. Kami akan sesuaikan melalui kontrak jangka pendek yang segera habis masa berlakunya,” jelas Fadjar dikutip Antara.
Imbas Positif dari Penurunan Tarif Resiprokal AS
Langkah ini tak lepas dari negosiasi dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat. Sebelumnya, tarif resiprokal atas produk Indonesia di AS yang awalnya sebesar 32 persen, telah dipangkas menjadi 19 persen. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump, usai pertemuan bilateral dengan Presiden RI Prabowo Subianto.
Dalam pernyataannya, Trump juga menyebut bahwa Indonesia telah menyatakan komitmen untuk membeli energi dari AS senilai 15 miliar dolar AS (sekitar Rp244 triliun), produk pertanian senilai 4,5 miliar dolar AS (sekitar Rp73,1 triliun), serta 50 unit pesawat Boeing.