Rupiah Melemah Usai Trump Pecat Anggota Dewan Gubernur The Fed. (Antaranews)
JAKART, ARAHKITA.COM - Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Selasa, setelah kabar mengejutkan dari Amerika Serikat mengenai pemecatan anggota Dewan Gubernur The Federal Reserve, Lisa D. Cook, oleh mantan Presiden AS Donald Trump.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut bahwa kabar pemecatan tersebut menjadi pemicu volatilitas pasar dan turut menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang menguat dan volatile setelah kabar bahwa Trump memecat anggota dewan gubernur Lisa D.Cook," kata Lukman di Jakarta, Selasa.
Baca juga:
Rupiah Melemah ke Rp17.992 per Dolar AS pada Awal Pekan, Pasar Masih Waspadai Sentimen Global
Trump sudah mengingatkan bahwa Lisa Cook mengundurkan diri di tengah tuduhan penipuan hipotek.
Baca juga:
Rupiah Melemah ke Rp17.992 per Dolar AS pada Awal Pekan, Pasar Masih Waspadai Sentimen GlobalDirektur Badan Keuangan Perumahan Federal Bill Pulte menuduh Cook secara keliru mengklaim dua rumah berbeda sebagai tempat tinggal utamanya. Bill mengatakan telah mengirimkan laporan pidana ke Departemen Kehakiman, yang sudah dikonfirmasi bahwa tahapan berlangsung ke penyelidikan.
Cook, yang ditunjuk oleh mantan Presiden Joe Biden, telah membantah melakukan kesalahan, dengan mengatakan ia "tidak berniat diintimidasi untuk mengundurkan diri”.
“Keinginan Trump mendikte The Fed untuk menurunkan suku bunga (menjadi alasan mengapa Cook dipecat,” ujar Lukman.
Selama ini, Cook memang secara konsisten telah memberikan suara bersama Gubernur The Fed Jerome Powell untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.
Bagi Lukman, aksi Trump ini memuluskan keinginan untuk menurunkan suku bunga, tetapi justru dapat melemahkan dolar AS, walaupun mungkin investor memandang bisa mendukung ekonomi AS ke depan dan mengurangi dampak kebijakan tarif.
“Indeks dolar yang menguat pagi ini diikuti oleh penguatan CHF (Franc Swiss) dan Yen kemudian emas, sehingga tercermin kekhawatiran kekisruhan di AS menyebabkan investor berbondong-bondong ke cash haven. Namun, ini hanya reaksi sesaat dan investor saat ini masih mencerna perkembangan ini,” kata dia dikutip Antara.