Paus Leo XIV menyapa para migran selama kunjungan ke pusat penerimaan Las Raices di Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol pada 12 Juni 2026. ANTARA/Andres Gutierrez-Anadolu/pri.
VATICAN CITY, ARAHKITA.COM – Paus Leo XIV kembali menyampaikan pesan kuat mengenai isu kemanusiaan. Dalam kunjungan simbolis ke Pulau Lampedusa, Italia, Sabtu (4/7/2026), pemimpin Gereja Katolik itu meminta negara-negara Eropa dan Amerika Serikat menangani persoalan migrasi dengan semangat solidaritas, bukan hanya melalui kebijakan pencegahan dan pengamanan perbatasan.
Pulau Lampedusa selama bertahun-tahun dikenal sebagai gerbang utama para migran yang mempertaruhkan nyawa menyeberangi Laut Mediterania demi mencari kehidupan yang lebih aman di Eropa.
Menariknya, Paus Leo XIV—Paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat—memilih datang ke pulau tersebut tepat pada peringatan 250 tahun Hari Kemerdekaan AS. Pilihan waktu itu dinilai sebagai pesan moral sekaligus politik yang kuat kepada para pemimpin Barat mengenai pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi terhadap migrasi.
Baca juga:
Paus Leo XIV Kunjungi Spanyol, Angkat Isu Migrasi, Perdamaian, dan Perlindungan Kelompok RentanSejak awal masa kepausannya, Leo XIV berulang kali menegaskan bahwa para migran adalah manusia yang membutuhkan perlindungan dan martabat, bukan semata-mata dipandang sebagai persoalan keamanan.
Kunjungan ini berlangsung kurang dari dua pekan setelah Uni Eropa menyepakati aturan migrasi baru yang memperluas kewenangan penahanan migran serta membuka kemungkinan pembangunan pusat deportasi di luar wilayah Uni Eropa. Dalam beberapa bulan terakhir, Paus Leo juga beberapa kali mengkritik kebijakan imigrasi yang dinilainya terlalu keras, termasuk langkah-langkah yang diterapkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Baca juga:
Paus Leo XIV Kunjungi Spanyol, Angkat Isu Migrasi, Perdamaian, dan Perlindungan Kelompok RentanSeruan untuk Kebijakan yang Lebih Manusiawi
Berbicara di hadapan warga dan para peziarah di Lampedusa, Paus Leo XIV mengakui bahwa migrasi merupakan tantangan besar bagi masyarakat Eropa. Namun menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperketat perbatasan.
"Dari sudut terpencil Eropa di Laut Mediterania ini, kita dapat lebih jelas memahami tantangan besar yang ditimbulkan oleh fenomena migrasi bagi masyarakat Eropa," ujar Paus Leo dikutip Antara.
Ia menegaskan bahwa Eropa memiliki kemampuan untuk mengelola persoalan migrasi melalui kebijakan yang mampu menerima, melindungi, mendampingi, dan mengintegrasikan para migran. Pada saat yang sama, negara-negara asal juga perlu dibantu agar masyarakatnya tidak terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya karena konflik maupun kemiskinan.
Melanjutkan Warisan Paus FransiskusPerjalanan ke Lampedusa juga menjadi simbol kesinambungan sikap antara Paus Leo XIV dan pendahulunya, Paus Fransiskus.
Pada 2013, Paus Fransiskus menjadikan Lampedusa sebagai tujuan perjalanan pertamanya di luar Roma. Saat itu, dunia menaruh perhatian besar terhadap tragedi ribuan migran yang kehilangan nyawa saat mencoba menyeberangi Laut Mediterania.
Dalam kunjungan kali ini, Paus Leo mengikuti jejak tersebut. Ia memulai rangkaian kegiatan dengan berdoa di makam para migran yang meninggal dunia di laut.
Selanjutnya, ia menghadap Laut Mediterania—jalur migrasi yang dikenal sebagai salah satu rute paling berbahaya di dunia—mengunjungi monumen "Gerbang Menuju Eropa", lalu bertemu dengan keluarga migran yang berhasil selamat.
Mengingatkan Dunia Lewat Kisah Orang Samaria yang Baik Hati
Dalam misa terbuka yang digelar di Lampedusa, Paus Leo XIV menggunakan kisah Orang Samaria yang Baik Hati sebagai refleksi atas penderitaan para migran.
Ia menggambarkan ribuan migran sebagai korban kekerasan, perdagangan manusia, peperangan, dan kemiskinan yang sering kali kehilangan seluruh harta benda bahkan nyawa dalam perjalanan menuju Eropa.
Menurutnya, mereka yang meninggal di Laut Mediterania seharusnya menjadi pengingat bagi hati nurani dunia, sekaligus mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berlandaskan nilai kemanusiaan.
Lampedusa Masih Menjadi Simbol Krisis Migrasi
Pulau Lampedusa yang hanya berjarak sekitar 145 kilometer dari Tunisia hingga kini tetap menjadi titik utama kedatangan para migran dari Afrika Utara.
Data badan pengungsi PBB menunjukkan lebih dari 14.000 migran tiba di Italia sepanjang paruh pertama tahun ini. Hampir 60 persen di antaranya mendarat melalui Lampedusa, dengan sebagian besar berangkat dari Libya.
Dalam kesempatan itu, Paus Leo XIV juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Lampedusa yang selama bertahun-tahun membantu para migran dan mendukung berbagai operasi penyelamatan di laut.
Ia menyebut kepedulian warga pulau tersebut sebagai "mukjizat belas kasih", sebuah teladan bahwa solidaritas masih dapat menjadi jawaban di tengah kompleksitas krisis migrasi global.
Melalui kunjungan yang sarat makna ini, Paus Leo XIV kembali mengingatkan bahwa di balik setiap angka statistik migrasi terdapat kehidupan manusia yang membutuhkan perlindungan, harapan, dan masa depan yang lebih baik. Pesan itu menjadi semakin relevan ketika banyak negara kini lebih menitikberatkan kebijakan pada pengawasan perbatasan, deportasi, dan pengetatan imigrasi dibandingkan pendekatan kemanusiaan.