Senin, 05 Januari 2026

Bapanas Perkuat Teknologi Sorgum di Karawang dan Bandung, Dorong Pangan Lokal Bernilai Tambah


 Bapanas Perkuat Teknologi Sorgum di Karawang dan Bandung, Dorong Pangan Lokal Bernilai Tambah Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto (kanan) mengunjungi alat produksi sorgum di Bandung, Jawa Barat. ANTARA/HO-Bapanas

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus memperkuat pengembangan sorgum di Kabupaten Karawang dan Kota Bandung sebagai bagian dari strategi penguatan pangan lokal berbasis teknologi. Upaya ini diarahkan untuk memastikan komoditas lokal tidak hanya berhenti sebagai bahan mentah, tetapi mampu diolah menjadi produk pangan bernilai ekonomi tinggi.

Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, mengatakan pengembangan sorgum di kedua wilayah tersebut menjadi contoh penguatan pangan lokal yang dibangun secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Menurut Andriko, sorgum memiliki keunggulan sebagai komoditas adaptif yang dapat diolah menjadi beragam produk pangan. Dengan dukungan inovasi dan teknologi pengolahan, sorgum dinilai mampu menjawab tantangan ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani dan pelaku usaha lokal.

“Kami mendorong agar pangan lokal tidak berhenti di tahap produksi. Petani memproduksi sorgum, kemudian hasilnya diserap UMKM untuk diolah menjadi pangan siap konsumsi dengan nilai tambah,” ujar Andriko dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (3/1/2026).

Sebagai bentuk dukungan nyata, Bapanas memfasilitasi pengolahan pascapanen melalui penyediaan berbagai peralatan, mulai dari mesin perontok, penyosoh, penepung, pengering, hingga alat pendukung lainnya. Fasilitas ini memungkinkan UMKM sorgum di Karawang dan Bandung memproduksi aneka olahan seperti bubur sorgum, kerupuk, tepung, hingga cookies berbahan dasar sorgum.

Salah satu produk tersebut bahkan telah masuk ke dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Cookies sorgum dari Karawang kini disuplai melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), menandai keterlibatan langsung pangan lokal dalam penyediaan gizi berskala nasional.

“Ketika produk pangan lokal bisa masuk ke MBG, itu menunjukkan kualitas, keamanan, dan keberlanjutan produksinya sudah memenuhi standar. Ini bukti bahwa pangan lokal mampu berperan langsung dalam pemenuhan gizi masyarakat,” jelas Andriko dikutip Antara.

Selain itu, Bapanas juga mendorong pemanfaatan teknologi lanjutan seperti freeze dryer untuk produk berbasis sorgum. Teknologi ini memungkinkan produk seperti nasi sorgum, bubur, dan sari sorgum memiliki masa simpan lebih panjang tanpa mengurangi kandungan gizinya.

Penguatan teknologi pangan lokal ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Bapanas untuk memperluas konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman. Tidak hanya untuk pasar komersial, produk olahan sorgum dan singkong juga diarahkan sebagai bagian dari rantai pasok SPPG dalam Program MBG.

Langkah tersebut sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang percepatan penganekaragaman pangan berbasis potensi sumber daya lokal.Melalui inovasi teknologi dan penguatan UMKM, Bapanas menempatkan pangan lokal sebagai fondasi penting ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar soal pangan, tetapi juga ekonomi kerakyatan dan kedaulatan. Seluruh rantai dikerjakan di dalam negeri dengan memaksimalkan potensi lokal dan teknologi yang sesuai kebutuhan masyarakat,” pungkas Andriko.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru