Loading
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (ANTARA/Anadolu/pri.)
WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Pemerintah Venezuela menyatakan penolakan tegas terhadap kehadiran pasukan asing di wilayahnya menyusul klaim serangan militer berskala besar yang dilancarkan Amerika Serikat.
Sikap tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, melalui pesan video pada Sabtu (3/1/2025). Ia menegaskan bahwa Venezuela sebagai negara merdeka dan berdaulat tidak akan menerima intervensi militer asing dalam bentuk apa pun.
Menurut Padrino, kehadiran pasukan asing selama ini justru identik dengan kehancuran, penderitaan warga sipil, dan instabilitas kawasan. Ia menambahkan bahwa pemerintah Venezuela tengah mengumpulkan data terkait jumlah korban luka maupun korban meninggal akibat serangan tersebut.
Lebih jauh, Padrino menyampaikan kecaman keras terhadap apa yang ia sebut sebagai serangan “keji dan pengecut” yang dinilai mengancam perdamaian regional. Ia juga mendesak komunitas internasional serta organisasi multilateral untuk bersuara dan mengecam tindakan Washington yang dianggap melanggar hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pernyataan keras dari Caracas ini muncul setelah mantan Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa Amerika Serikat telah berhasil melakukan operasi militer besar-besaran di Venezuela. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut bahwa Presiden Venezuela Nicolás Maduro bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut dikutip Antara.
Trump juga menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa detail lanjutan terkait penangkapan Maduro akan diumumkan dalam konferensi pers yang dijadwalkan berlangsung di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida.
Hingga kini, klaim tersebut masih menuai reaksi keras dan menjadi sorotan dunia internasional, sementara situasi di Venezuela disebut masih berkembang dan penuh ketegangan.