Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025 dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2025). (ANTARA/Imamatul Silfia)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Menutup tahun anggaran 2025, Pemerintah Indonesia melaporkan kondisi keuangan negara yang cukup dinamis. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa realisasi sementara defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mencapai Rp695,1 triliun, atau setara dengan 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka ini menunjukkan pelebaran yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan target awal yang dipatok sebesar 2,53 persen. Meski secara angka mendekati ambang batas legalitas undang-undang sebesar 3 persen, Menkeu menegaskan bahwa posisi ini masih dalam koridor aman dan terkendali.
"Walau melambung, kami pastikan angka ini tetap di bawah 3 persen," tegas Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Sisi Pendapatan: PNBP Jadi Penyelamat
Realisasi pendapatan negara hingga 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun (91,7% dari target). Sektor perpajakan nampaknya menghadapi tantangan berat dengan realisasi Rp2.217,9 triliun atau hanya sekitar 89% dari target.
Menariknya, di tengah lesunya setoran pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru tampil impresif. PNBP berhasil melampaui target (104%) dengan capaian Rp534,1 triliun. Selain itu, penerimaan hibah melonjak drastis hingga 733,3% dari target awal, meskipun secara nominal hanya menyumbang Rp4,3 triliun.
Belanja Negara: Stimulus di Tengah Downfall
Dari sisi pengeluaran, pemerintah sangat agresif dalam menyalurkan anggaran guna menopang ekonomi. Total belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun. Fokus belanja terlihat jelas pada kementerian/lembaga (K/L) yang realisasinya membengkak hingga 129,3% dari target awal.
Purbaya menjelaskan bahwa keputusan untuk tidak memotong belanja meski defisit melebar adalah langkah strategis. Menurutnya, saat ekonomi menghadapi tren downfall, peran pemerintah sebagai stimulan melalui belanja negara sangat krusial.
"Ini cara pemerintah menjaga agar ekonomi tumbuh berkesinambungan tanpa harus mengorbankan daya beli masyarakat, meskipun beban APBN bertambah," tambahnya dikutip Antara.
Catatan Keseimbangan Primer
Data terbaru juga menunjukkan keseimbangan primer (total pendapatan dikurangi belanja di luar bunga utang) mencatat defisit sebesar Rp180,7 triliun. Angka ini jauh melampaui estimasi awal yang hanya Rp63,3 triliun. Sebagai penutup, pemerintah mencatatkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) sebesar Rp48,9 triliun dari total pembiayaan Rp744 triliun.
Langkah fiskal di tahun 2025 ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk tetap "berani" melakukan belanja produktif demi membentengi ekonomi nasional dari ketidakpastian global, sembari tetap menjaga disiplin fiskal di bawah batas aman undang-undang.