Selasa, 11 Agustus 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.189 per Dolar AS, Sentimen Negatif dari S&P Jadi Tekanan Utama


 Rupiah Melemah ke Rp17.189 per Dolar AS, Sentimen Negatif dari S&P Jadi Tekanan Utama Rupiah melemah ke Rp17.189 per dolar AS dipicu outlook negatif S&P terhadap obligasi Indonesia. (Antaranews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada penutupan perdagangan Jumat. Mata uang Garuda turun 50 poin atau sekitar 0,29 persen, menjadi Rp17.189 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.139.

Meski pergerakannya tergolong tipis, tekanan terhadap rupiah kali ini bukan datang dari luar negeri, melainkan dari sentimen domestik.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh perubahan pandangan lembaga pemeringkat global, Standard & Poor’s (S&P), terhadap obligasi pemerintah Indonesia.

Menurutnya, outlook negatif yang diberikan S&P mencerminkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia yang dinilai sedang menghadapi tekanan cukup besar.

“Pergerakan rupiah hari ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik, khususnya outlook negatif dari S&P terhadap peringkat obligasi pemerintah,” jelas Rully.

Kekhawatiran pada Utang dan Defisit

S&P sebelumnya menyoroti rasio pembayaran utang Indonesia yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih. Hal ini kemudian menjadi salah satu faktor yang memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa S&P secara khusus menanyakan konsistensi pemerintah dalam menjaga defisit anggaran tetap di bawah batas aman, yaitu 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, pemerintah tetap optimistis.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi sementara defisit APBN 2025 berada di angka 2,92 persen dari PDB. Bahkan, setelah melalui proses audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), defisit diperkirakan bisa ditekan hingga sekitar 2,8 persen.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa pemerintah masih berupaya menjaga disiplin fiskal di tengah tantangan ekonomi.

Strategi Pemerintah Perkuat APBN

Untuk tahun anggaran 2026, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat penerimaan negara. Salah satunya melalui perbaikan sistem perpajakan serta restrukturisasi organisasi di sektor kepabeanan dan cukai.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Faktor Eksternal Justru Lebih Stabil

Menariknya, dari sisi global, kondisi justru relatif mendukung. Mayoritas mata uang regional tercatat menguat, sementara indeks dolar AS cenderung stabil dikutip Antara.

Artinya, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih bersumber dari dalam negeri, bukan gejolak global.

Sejalan dengan itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan rupiah ke level Rp17.189 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.142.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru