Loading
Pramuniaga menunjukkan emas batangan di sebuah gerai penjualan emas di Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (14/1/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
NEW YORK, ARAHKITA.COM — Harga emas kembali mencetak sejarah. Untuk pertama kalinya, kontrak emas berjangka di Comex New York menembus level 5.000 dolar Amerika Serikat per ons dalam perdagangan elektronik Globex, Minggu malam (25/1/2026).
Lonjakan ini langsung menjadi sorotan pelaku pasar global. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik internasional, emas kembali menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai paling dicari.
Survei terbaru Kitco News menunjukkan mayoritas analis masih memandang prospek emas tetap cerah. Ketegangan geopolitik yang kian memanas, kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve Amerika Serikat, serta valuasi saham yang dinilai terlalu tinggi menjadi kombinasi faktor yang mendorong minat investor beralih ke emas.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS disebut sebagai mesin utama reli emas kali ini. Penjualan obligasi pemerintah AS yang terus berlangsung—baik karena tekanan geopolitik maupun isu keberlanjutan utang—membuat dolar kehilangan daya tariknya. Arus dana pun mengalir ke aset yang dianggap lebih aman, dengan emas berada di barisan terdepan dikutip Antara.
Meski demikian, euforia ini tetap dibayangi potensi risiko jangka pendek. Sejumlah analis mengingatkan bahwa kenaikan tajam berpotensi memicu jeda teknis atau bahkan koreksi harga. Namun secara umum, sentimen pasar masih menilai emas berada dalam tren kuat, terutama selama ketidakpastian global belum mereda.