Indef: Pertumbuhan 2025 Masih Rentan, Butuh Dorongan Sektor Riil


 Indef: Pertumbuhan 2025 Masih Rentan, Butuh Dorongan Sektor Riil Ilustrasi - Kapal kargo bersandar di kawasan pelabuhan dan industri maritim Batam, Kepulauan Riau, Rabu (14/1/2026). ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/rwa.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Target membawa ekonomi Indonesia melampaui angka 5 persen dinilai belum realistis jika iklim investasi dan produktivitas sektor riil tidak segera dibenahi. Peringatan itu disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, yang melihat ekonomi nasional masih terjebak pada pola pertumbuhan datar.

Menurut Rizal, persoalan Indonesia bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan tahunan, melainkan bagaimana keluar dari zona nyaman di kisaran 5 persen. Tanpa perubahan struktural, lonjakan ekonomi yang terjadi di akhir tahun hanya akan menjadi tenaga sesaat.

“Kalau tidak ada perbaikan serius pada investasi dan produktivitas sektor riil, penguatan ekonomi berisiko bersifat temporer dan tidak cukup menopang pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Momentum Belum Jadi Akselerasi

Sepanjang 2025 hingga triwulan III, ekonomi Indonesia dinilai baru sebatas menjaga momentum. Setelah sempat melemah di awal tahun, pertumbuhan kembali ke level 5 persen pada triwulan II dan III. Namun capaian itu lebih menggambarkan stabilisasi, bukan lompatan kualitas.

Rizal memperkirakan triwulan IV 2025 memang memiliki peluang tumbuh sedikit lebih baik. Meski begitu, kenaikan tersebut belum bisa disebut sebagai akselerasi berkelanjutan.

“Secara tahunan, pertumbuhan 2025 kemungkinan hanya naik tipis dan tetap berkutat di sekitar 5 persen. Ini belum cukup kuat untuk disebut fase kebangkitan ekonomi,” jelasnya.

Ditopang Faktor Musiman

Jika ditelisik lebih dalam, sumber pertumbuhan akhir 2025 masih didominasi faktor musiman. Konsumsi rumah tangga menjelang akhir tahun serta realisasi belanja pemerintah menjadi motor utama.

Masalahnya, dua komponen itu memiliki daya tahan terbatas. Sementara sektor yang seharusnya menjadi penopang jangka panjang—yakni investasi—justru belum menunjukkan sinyal menggembirakan.

Rizal menyoroti melemahnya pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada paruh kedua 2025 sebagai alarm penting. Artinya, kualitas pertumbuhan masih rapuh dan terlalu bergantung pada stimulus sesaat.

“Ekspor memang relatif solid dan membantu menahan laju ekonomi. Tapi tanpa penguatan investasi, pondasi pertumbuhan tetap rentan,” tegasnya dikutip Antara.

Tantangan di Sektor Produksi

Dari sisi lapangan usaha, sektor berbasis konsumsi domestik diperkirakan tumbuh lebih baik pada akhir tahun, mengikuti pola musiman. Sejumlah sektor jasa juga masih menjadi penyangga utama.

Berbeda dengan itu, sektor pertanian lebih berperan menjaga stabilitas harga dan daya beli, bukan sebagai mesin pertumbuhan agregat. Tekanan justru terasa pada sektor pertambangan yang terdampak normalisasi harga komoditas global.

Industri pengolahan pun menghadapi jalan terjal. Minimnya investasi baru dan ketidakpastian permintaan eksternal membuat sektor ini belum mampu menjadi lokomotif ekonomi.

Rizal menegaskan, tanpa keberanian melakukan reformasi iklim investasi, mimpi membawa ekonomi Indonesia melaju di atas 5 persen akan terus tertunda. Pemerintah perlu memastikan kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan insentif produktif agar sektor riil benar-benar bergerak.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru