Loading
Ilustrasi Sederet mobil listrik Zeekr X yang siap untuk diekspor. (Zeekr)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kinerja ekspor mobil merek China yang diproduksi di Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan sepanjang 2025. Volume pengiriman ke luar negeri tercatat naik hingga 148 persen, dengan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) menjadi motor utama pertumbuhan tersebut.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, sepanjang tahun lalu terdapat tiga merek otomotif asal China yang mengekspor kendaraan rakitan pabrik Indonesia, yakni Wuling, Chery, dan DFSK. Total ekspor ketiganya mencapai sekitar 3.200 unit.
Sebagian besar unit yang diekspor merupakan kendaraan utuh atau completely built-up (CBU), dengan negara tujuan utama meliputi Sri Lanka, Bangladesh, Brunei Darussalam, hingga Vietnam. Wuling tercatat sebagai eksportir terbesar dengan volume 2.411 unit, disusul Chery sebanyak 745 unit dan DFSK sebanyak 44 unit.
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai lonjakan ekspor tersebut menjadi indikator kuat meningkatnya daya saing industri otomotif nasional, khususnya di segmen kendaraan listrik.
“Peningkatan ini menunjukkan bahwa kualitas produksi dan tenaga kerja Indonesia sudah mampu memenuhi standar global yang diterapkan pabrikan mobil China, terutama untuk kendaraan listrik,” ujar Yannes, Rabu (4/2/2026).
Dari total ekspor mobil merek China buatan Indonesia, sekitar 52 persen atau sekitar 1.670 unit merupakan kendaraan listrik. Seluruh unit EV tersebut berasal dari lini produksi Wuling. Secara tahunan, ekspor EV tercatat tumbuh sekitar 71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Yannes menilai capaian ini menandai perubahan posisi Indonesia dalam peta industri otomotif global.
“Saya melihat Indonesia mulai naik kelas. Kita tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar, khususnya untuk kendaraan listrik, tetapi juga sudah diakui sebagai basis produksi. Jika regulasi dijaga konsisten, ekspor ini berpotensi melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.
Ia menjelaskan, ada sejumlah faktor yang membuat Indonesia menarik bagi pabrikan otomotif China sebagai basis produksi untuk ekspor. Salah satunya adalah potensi Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan setir kanan yang dibutuhkan oleh negara-negara Asia Tenggara, Bangladesh, Sri Lanka, hingga Australia.
Selain itu, kendaraan yang diproduksi di Indonesia dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menghindari tarif impor tinggi di negara tujuan dibandingkan mobil yang dikirim langsung dari China. Hal ini didukung oleh berbagai perjanjian perdagangan bebas yang telah dimiliki Indonesia dengan sejumlah negara.
“Keuntungan lain adalah ekosistem baterai kendaraan listrik yang sedang dikembangkan di dalam negeri. Jika rantai pasok ini semakin matang, biaya produksi EV di Indonesia akan semakin kompetitif,” tutur Yannes.
Dengan tren tersebut, kendaraan listrik dinilai berpeluang menjadi salah satu pilar baru ekspor non-migas Indonesia di masa mendatang, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri otomotif global.