Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD 100, Ancaman Nyata Jika Selat Hormuz Ditutup


 Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD 100, Ancaman Nyata Jika Selat Hormuz Ditutup Ilustrasi - Harga minyak naik, dengan peta dunia di latar belakang. (Shutterstoc)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran global. Salah satu dampak yang paling disorot adalah lonjakan harga minyak dunia yang diprediksi bisa menembus 100 dolar AS per barel, terutama jika jalur vital Selat Hormuz ditutup.

Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menyebutkan bahwa skenario penutupan Selat Hormuz dapat berdampak sangat cepat terhadap harga minyak global.

“Kalau ditutup hari ini, besok atau lusa harga minyak bisa langsung melonjak ke kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Senin (2/3/2026).

Selat Hormuz, Jalur Kritis Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, berada di antara Iran dan Oman. Sekitar seperlima ekspor minyak dunia melewati jalur ini, termasuk pasokan utama dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak menuju pasar global.

Karena posisinya yang vital, Selat Hormuz kerap menjadi titik panas dalam konflik geopolitik, terutama dalam eskalasi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

“Jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz, kenaikan harga minyak bisa mencapai 50 persen,” kata Yayan.

Indonesia Tak Bisa Menghindar dari Dampaknya

Bagi Indonesia, yang masih bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah, lonjakan harga BBM hampir tak terelakkan. Bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz sekalipun, konflik yang sedang berlangsung berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global di kisaran 10–25 persen.

Masalahnya, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 dipatok di level 70 dolar AS per barel. Jika harga riil jauh melampaui angka tersebut, risiko pembengkakan anggaran menjadi nyata.

“Pemerintah harus menyiapkan langkah efisiensi tambahan. Pertanyaannya, apakah itu mau dilakukan?” ujar Yayan mengingatkan dikutip Antara.

Konflik Iran–AS–Israel Memanas

Ketegangan meningkat setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2). Ini menjadi serangan kedua di era pemerintahan Presiden Donald Trump, setelah serangan pertama pada Juni 2025.

Trump menyatakan operasi militer tersebut dilakukan untuk menghilangkan ancaman yang disebutnya berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir Iran.

Sebelumnya, AS dan Iran telah menjalani tiga putaran perundingan tidak langsung yang dimediasi Oman, dengan pertemuan digelar di Muscat dan Jenewa. Namun, proses diplomasi itu berlangsung di tengah eskalasi konflik yang kian memanas.

Harga Sudah Naik, Risiko Masih Mengintai

Harga minyak acuan global sempat melonjak sekitar 13 persen ke level 82 dolar AS per barel, sebelum kembali turun ke kisaran 76,4 dolar AS. Meski demikian, skenario penutupan penuh Selat Hormuz diperkirakan bisa mendorong harga melampaui 100 dolar AS per barel.

Jika kondisi itu terjadi, rata-rata harga minyak mentah Brent sepanjang 2026 diprediksi berada di kisaran 85 dolar AS per barel, sebuah angka yang akan memberi tekanan besar bagi ekonomi global—termasuk Indonesia.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru