Harga Minyak Naik Turun Tajam, G7 Masih Menahan Cadangan Energi


 Harga Minyak Naik Turun Tajam, G7 Masih Menahan Cadangan Energi Negara-negara G7 menahan pelepasan cadangan minyak strategis di tengah gejolak harga energi akibat konflik Timur Tengah. (Ilustrasi Chat GPT AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Namun hingga kini negara-negara anggota G7 memilih bersikap hati-hati dan belum memutuskan untuk melepas cadangan minyak strategis ke pasar.

Para menteri energi dari kelompok negara maju itu sepakat meminta Badan Energi Internasional (IEA) terlebih dahulu melakukan kajian mendalam mengenai kondisi pasokan energi dunia sebelum mengambil langkah lebih jauh.

Langkah tersebut diambil setelah harga energi global mengalami gejolak dalam beberapa hari terakhir akibat konflik yang melibatkan Iran dan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Dilaporkan dan dikutip dari The Asahi Shimbun, para anggota IEA dijadwalkan menggelar pertemuan luar biasa guna mengevaluasi keamanan pasokan energi serta kondisi pasar global saat ini.

Pertemuan tersebut akan menentukan apakah stok darurat energi milik negara-negara anggota IEA perlu dilepas untuk menstabilkan pasar.

Direktur Eksekutif IEA menyatakan bahwa evaluasi ini penting agar setiap keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.

Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure mengatakan bahwa negara-negara G7 ingin tetap siap mengambil tindakan jika situasi pasar energi memburuk.

“Kami telah meminta IEA untuk menyusun berbagai skenario terkait kemungkinan pelepasan cadangan minyak. Kami harus siap bertindak kapan saja,” ujarnya kepada wartawan setelah pertemuan melalui sambungan telepon antara para menteri G7.

Kelompok G7 sendiri terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Italia, Inggris, Jerman, dan Prancis—negara-negara yang memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan energi global.

Harga Minyak Naik Lalu Anjlok

Pasar energi sempat mengalami lonjakan tajam. Harga minyak acuan dunia pada awal pekan ini melonjak ke level tertinggi dalam hampir empat tahun.

Namun situasi berubah cepat. Pada hari berikutnya harga minyak justru turun hingga sekitar 11 persen, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan konflik di Timur Tengah bisa segera mereda.

Fluktuasi harga yang ekstrem ini menjadi alasan utama negara-negara G7 menahan diri sebelum mengambil keputusan besar terkait cadangan energi strategis.

Kekhawatiran Krisis Energi di Eropa

Di sisi lain, negara-negara Eropa mulai menunjukkan kecemasan akan kemungkinan terulangnya krisis energi seperti yang terjadi pada tahun 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga energi yang sangat tinggi.

Saat itu, sejumlah industri di Eropa bahkan terpaksa mengurangi produksi atau menghentikan operasinya karena biaya energi yang melonjak drastis.

Kondisi tersebut membuat pemerintah Eropa kini lebih berhati-hati dalam mengelola stabilitas pasokan energi.

Eropa Dianggap Masih Rentan

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengakui bahwa kawasan Eropa masih memiliki kerentanan struktural dalam hal energi.

Menurutnya, ketergantungan tinggi terhadap impor bahan bakar fosil membuat Eropa lebih sensitif terhadap gejolak geopolitik dibandingkan wilayah lain.

“Krisis di Timur Tengah kembali mengingatkan kita bahwa ketergantungan pada impor energi yang mahal dan tidak stabil membuat Eropa berada pada posisi yang kurang menguntungkan,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa keputusan sebagian negara Eropa untuk mengurangi penggunaan energi nuklir di masa lalu merupakan kesalahan strategis.

Investasi Infrastruktur Energi

Sebagai langkah antisipasi, Komisi Eropa mengumumkan rencana investasi besar-besaran di sektor energi.

Bank Investasi Eropa akan mengalokasikan sekitar 75 miliar euro dalam tiga tahun ke depan untuk memperkuat infrastruktur energi, termasuk jaringan listrik di berbagai negara Uni Eropa.

Investasi ini diharapkan dapat mengurangi hambatan distribusi energi sekaligus menekan harga energi di kawasan tersebut.Komisioner Energi Uni Eropa Dan Jorgensen mengatakan bahwa Eropa kini berada dalam posisi yang lebih siap dibandingkan saat krisis energi tahun 2022.

Saat ini, sumber pasokan energi Eropa juga lebih beragam.

Jika sebelumnya sekitar 40 persen pasokan gas Eropa berasal dari Rusia, kini pemasok utama Uni Eropa berasal dari Norwegia dan Amerika Serikat.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru