Loading
Ilustrasi Kapal tanker melintas di Selat Hormuz Iran ANTARAAnadolupy
TOKYO, ARAHKITA.COM – Lonjakan harga minyak dunia mendorong negara-negara ekonomi maju yang tergabung dalam G7 mempertimbangkan langkah darurat. Salah satu opsi yang dibahas adalah pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi untuk menstabilkan pasar energi global.
Para menteri energi G7 dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa (10/3/2026) malam. Agenda utama pertemuan ini adalah mencari langkah konkret untuk meredam dampak lonjakan harga minyak yang dalam beberapa hari terakhir meningkat tajam.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan, opsi pelepasan cadangan minyak memang sedang dipertimbangkan secara serius. Namun, keputusan tersebut membutuhkan koordinasi yang matang antarnegara.
“Jika langkah itu diambil, maka harus dilakukan dengan cara yang paling efektif. Masih ada banyak hal yang perlu dibahas, seperti kapan waktu yang tepat, bagaimana mekanismenya, serta apakah pelepasan dilakukan secara bertahap,” kata Katayama kepada wartawan, Selasa (10/3/2026).
Ia menambahkan, ke depan pembahasan ini kemungkinan juga akan melibatkan para pemimpin negara G7, mengingat dampaknya sangat luas terhadap stabilitas energi global.
Harga Minyak Melonjak
Harga minyak mentah dunia melonjak hingga di atas 119 dolar AS per barel pada Minggu, atau sekitar Rp2 juta per barel. Angka ini menjadi level tertinggi sejak Juni 2022.
Kenaikan harga dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, terutama akibat meningkatnya ketegangan dan konflik di kawasan Timur Tengah.
Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa pasokan energi dunia dapat terganggu jika konflik berkembang lebih luas.
Peran Cadangan Minyak Global
Dalam sistem energi global, negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) diwajibkan memiliki cadangan minyak darurat. Cadangan ini disiapkan untuk menjaga stabilitas pasokan energi ketika terjadi krisis.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol juga ikut bergabung dalam diskusi para menteri keuangan G7 sebelumnya.
Menurut data IEA, negara-negara anggotanya secara kolektif menyimpan lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik. Dari jumlah tersebut, Amerika Serikat dan Jepang menjadi penyumbang terbesar dengan total sekitar 700 juta barel.
Cadangan ini pernah digunakan sebelumnya. Pada 2022, IEA mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak setelah Rusia melancarkan invasi besar ke Ukraina, langkah yang bertujuan menstabilkan pasar energi global.
Siapa Saja Anggota G7?
G7 atau Group of Seven merupakan forum kerja sama negara-negara ekonomi maju yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi global.
Anggotanya terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat, dengan Uni Eropa sebagai anggota tambahan non-enumerasi.
Keputusan yang diambil oleh kelompok ini sering kali menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan ekonomi dan energi dunia.