Ilustrasi - Perang Iran mengguncang pasar IPO India yang sebelumnya paling sibuk di dunia. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Pasar saham India yang sempat menjadi yang tersibuk di dunia kini mulai kehilangan momentum. Ketegangan geopolitik akibat perang Iran memberikan efek domino yang nyata: dari melemahnya minat investor hingga tertundanya sejumlah rencana penawaran saham perdana (IPO) bernilai besar.
Padahal, sepanjang 2025, India mencatat rekor sebagai pasar IPO paling aktif secara global. Namun memasuki 2026, situasi berubah drastis.
Dari Euforia ke Ketidakpastian
Baca juga:
Harga Tiket Pesawat ke Eropa Diprediksi Naik Akibat Konflik Iran, Industri Penerbangan Mulai WaspadaSalah satu sinyal paling jelas datang dari keputusan PhonePe—platform pembayaran digital yang didukung Walmart—yang menunda rencana IPO mereka. Langkah ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar di tengah gejolak global.
Ketegangan di Timur Tengah, khususnya perang Iran, memicu gangguan pasokan energi dan perdagangan global. Dampaknya terasa langsung pada pasar India.
Indeks saham utama India bahkan telah turun lebih dari 12% sejak Januari 2026. Nilai tukar rupee juga melemah terhadap dolar AS, memperburuk sentimen pasar.
Tak hanya itu, investor asing tercatat telah menarik dana lebih dari 8 miliar dolar AS dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat likuiditas pasar semakin menipis.
Baca juga:
Bank Jakarta Ditugaskan IPO 2026, Gubernur Pram Tekankan Profesionalisme dan TransparansiIPO Besar Ditunda, Startup Menahan Diri
Sejumlah perusahaan besar dan startup teknologi memilih “menunggu waktu yang tepat”. Selain PhonePe, nama-nama seperti Zepto, Flipkart, hingga Oyo ikut menunda rencana IPO mereka.
Padahal sebelumnya, beberapa di antaranya telah bersiap menghimpun dana dalam jumlah besar. Zepto, misalnya, sempat menargetkan lebih dari 1,2 miliar dolar AS dari IPO.
Namun di tengah ketidakpastian pasar, valuasi menjadi sulit ditentukan. Perusahaan enggan melepas saham dengan harga yang dianggap tidak optimal.
Menurut pelaku industri perbankan investasi, kondisi pasar saat ini tidak mendukung valuasi premium—yang biasanya menjadi daya tarik utama IPO dilaporkan dan dikutip dari CNBC.
Target Pasar Dipangkas, Prospek Melambat
Kekhawatiran juga datang dari lembaga keuangan global. Citi dan Nomura kompak menurunkan proyeksi indeks Nifty 50 untuk tahun 2026.
Penurunan ini dipicu oleh potensi perlambatan ekonomi India akibat lonjakan harga minyak dan gangguan pasokan global.Dengan kata lain, perang Iran tidak hanya berdampak regional, tetapi juga menekan ekspektasi pertumbuhan ekonomi India secara keseluruhan.
Investor Ritel Mulai Menjauh
Selain faktor global, kondisi internal pasar juga menjadi tantangan. Kinerja IPO yang kurang memuaskan belakangan ini membuat investor ritel dan kelas atas (HNI) memilih menepi.
Data menunjukkan, sebagian besar IPO yang melantai sejak awal tahun justru diperdagangkan di bawah harga penawaran awal.Hal ini menurunkan kepercayaan investor, terutama mereka yang mengandalkan potensi keuntungan jangka pendek.
Di sisi lain, investor institusional domestik kini memegang kendali lebih besar dalam menentukan harga IPO. Mereka cenderung lebih konservatif dan menekan valuasi agar tetap kompetitif.
Menunggu Momentum Baru
Meski kondisi saat ini penuh tantangan, bukan berarti pasar IPO India kehilangan daya tarik sepenuhnya.
Sejumlah IPO besar seperti Reliance Jio, NSE, dan SBI Mutual Fund masih dalam pipeline. Namun, pelaksanaannya kemungkinan besar akan menunggu kondisi pasar yang lebih stabil.
Para analis sepakat: pemulihan pasar sangat bergantung pada meredanya konflik geopolitik dan kembalinya kepercayaan investor.