BI Pastikan Perbankan Nasional Tetap Tangguh Hadapi Dampak Perang Global


 BI Pastikan Perbankan Nasional Tetap Tangguh Hadapi Dampak Perang Global Tangkapan layar - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam agenda Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2026 yang diadakan secara virtual, Jakarta, Rabu (22/4/2026). ANTARA/Youtube Bank Indonesia Channel/pri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, Bank Indonesia (BI) memastikan sistem perbankan nasional tetap berada dalam kondisi kuat dan stabil.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa sektor perbankan Indonesia memiliki daya tahan yang solid untuk meredam potensi dampak dari gejolak global tersebut.

Menurutnya, indikator utama perbankan menunjukkan kondisi yang sangat sehat. Likuiditas perbankan tetap memadai, permodalan berada pada level tinggi, serta risiko kredit masih terjaga dalam batas aman.

“Ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional,” ujar Perry dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI April 2026.

Modal Kuat, Risiko Tetap Terkendali

Salah satu indikator penting, yakni Capital Adequacy Ratio (CAR), tercatat mencapai 25,83 persen pada Februari 2026. Angka ini menunjukkan bahwa perbankan Indonesia memiliki bantalan modal yang sangat kuat untuk menyerap risiko.

Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) juga tetap rendah. Secara agregat, NPL berada di level 2,17 persen (bruto) dan 0,83 persen (neto) — angka yang mencerminkan kualitas kredit yang tetap terjaga.

Tak hanya itu, hasil uji ketahanan (stress test) BI juga menunjukkan bahwa sektor perbankan mampu menghadapi berbagai skenario risiko, termasuk dampak rambatan dari konflik global.

Ketahanan ini turut didukung oleh kondisi korporasi yang masih mampu menjaga kemampuan bayar dan profitabilitasnya.

Pertumbuhan Kredit Terus Menguat

Kinerja perbankan juga tercermin dari pertumbuhan kredit yang terus meningkat. Hingga Maret 2026, kredit perbankan tumbuh 9,49 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Februari yang sebesar 9,37 persen.

Pertumbuhan ini didorong oleh:

  • Kredit investasi tumbuh 20,85% yoy
  • Kredit modal kerja tumbuh 4,38% yoy
  • Kredit konsumsi tumbuh 5,88% yoy

Bank Indonesia memperkirakan tren ini akan terus berlanjut, dengan proyeksi pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada di kisaran 8–12 persen.

Peluang Pembiayaan Masih Besar

Menariknya, dari sisi permintaan, peluang ekspansi kredit masih terbuka lebar. Hal ini terlihat dari besarnya fasilitas pinjaman yang belum dimanfaatkan (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.527,46 triliun atau sekitar 22,59 persen dari total plafon kredit.

Artinya, dunia usaha masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan pembiayaan guna mendorong pertumbuhan ekonomi dikutip Antara.

Likuiditas dan Dana Tetap Solid

Dari sisi penawaran, kemampuan bank dalam menyalurkan kredit juga tetap kuat. Ini ditopang oleh rasio likuiditas (AL/DPK) sebesar 27,85 persen, serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 13,55 persen yoy.

Ke depan, BI akan terus memperkuat pendanaan perbankan, termasuk melalui pengembangan sumber dana alternatif di luar DPK.

Langkah ini diharapkan mampu menjaga kesinambungan penyaluran kredit sekaligus memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru