Loading
Nilai tukar rupiah berpeluang menguat seiring kontraksi data manufaktur AS yang menekan dolar. (Antaranews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis pada perdagangan Selasa pagi. Mata uang Garuda turun sekitar 6 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.746 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.740 per dolar AS.
Meski bergerak melemah di awal sesi, analis menilai rupiah masih memiliki peluang untuk menguat seiring tekanan terhadap dolar Amerika Serikat yang dipicu data manufaktur terbaru. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut kontraksi sektor manufaktur AS menjadi sinyal yang cukup positif bagi pergerakan rupiah.
Menurut Lukman, pelemahan dolar AS terjadi setelah data manufaktur yang dirilis Institute for Supply Management menunjukkan hasil di bawah ekspektasi pasar. Namun demikian, sentimen positif tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat rupiah karena masih tertahan oleh data perdagangan Indonesia yang dinilai kurang menggembirakan.
“Rupiah berpotensi menguat, meski ruang penguatannya masih terbatas. Pelemahan dolar AS akibat kontraksi data ISM memang membantu, tetapi data perdagangan Indonesia yang dirilis sebelumnya masih menjadi beban,” ujarnya.
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur AS untuk Desember 2025 tercatat di level 47,9 persen. Angka ini turun 0,3 poin dibandingkan November 2025 yang berada di 48,2 persen, sekaligus berada di bawah proyeksi pasar sebesar 48,3 persen. Capaian tersebut menegaskan bahwa sektor manufaktur AS masih berada dalam fase kontraksi.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 masih mencatatkan surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS. Nilai ekspor tercatat sebesar 22,52 miliar dolar AS, sementara impor mencapai 19,86 miliar dolar AS.
Namun, angka surplus tersebut berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan surplus sekitar 3,1 miliar dolar AS. Dari sisi kinerja tahunan, ekspor Indonesia justru terkontraksi 6,6 persen, jauh di bawah perkiraan pertumbuhan 0,5 persen. Sementara itu, impor hanya tumbuh 0,46 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dari ekspektasi 3,2 persen.
Selain faktor data perdagangan, pergerakan rupiah juga masih dibayangi sejumlah tantangan domestik. Kebijakan stimulus fiskal yang bersifat ekspansif, sinyal pelonggaran moneter dari Bank Indonesia, lemahnya permintaan domestik, serta kekhawatiran terhadap defisit anggaran dalam jangka menengah hingga panjang menjadi faktor penekan tambahan.
“Secara umum, rupiah masih menghadapi tekanan yang bersumber dari prospek ekonomi domestik itu sendiri,” kata Lukman.