Senin, 10 Agustus 2026

Dampak Perang Timur Tengah, BI Sebut Ekonomi Global 2026 Kian Melemah


 Dampak Perang Timur Tengah, BI Sebut Ekonomi Global 2026 Kian Melemah Gubernur Bank Indonesia BI Perry Warjiyo. (Foto istimewa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Konflik yang kembali memanas di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 mulai menunjukkan dampak serius terhadap perekonomian dunia. Bank Indonesia (BI) menilai, situasi ini memperburuk prospek ekonomi global, terutama melalui lonjakan harga energi dan tekanan di pasar keuangan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kenaikan tajam harga minyak dunia menjadi salah satu pemicu utama. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga merambat ke rantai pasok perdagangan internasional.

“Lonjakan harga minyak memberikan tekanan besar pada perdagangan global, yang akhirnya menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia sekaligus meningkatkan inflasi,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa (17/3/2026).

Pasar Keuangan Global Ikut Bergejolak

Tak hanya sektor riil, gejolak juga terasa di pasar keuangan global. Nilai tukar dolar AS terus menguat, diiringi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury).

Kondisi ini mendorong terjadinya arus modal keluar dari negara berkembang (emerging markets), karena investor cenderung memindahkan dana ke aset yang lebih aman (safe haven), seperti pasar keuangan Amerika Serikat.

Akibatnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang semakin besar, termasuk dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik dikutip Antara.

Pertumbuhan Global Melambat, Inflasi Naik

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan melambat menjadi sekitar 3,1 persen, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,2 persen.

Di sisi lain, inflasi global justru meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen. Kenaikan ini mempersempit ruang bagi bank sentral di berbagai negara untuk menurunkan suku bunga.

Bahkan, peluang penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Funds Rate) diperkirakan akan semakin tertunda.

Defisit AS dan Risiko Global Meningkat

Tekanan juga datang dari membengkaknya defisit fiskal Amerika Serikat, termasuk peningkatan anggaran untuk pembiayaan perang. Hal ini turut mendorong kenaikan yield US Treasury.

Kondisi tersebut memperbesar premi risiko inflasi global, sekaligus mempercepat perpindahan dana investor ke aset aman. Indeks dolar AS pun terus menguat terhadap berbagai mata uang dunia, baik negara maju maupun berkembang.

Tantangan bagi Negara Berkembang

BI menilai, kombinasi dari faktor-faktor tersebut membuat pengelolaan ekonomi di negara berkembang semakin kompleks. Tekanan terhadap nilai tukar dan stabilitas eksternal menjadi tantangan utama yang harus dihadapi.

Karena itu, diperlukan respons kebijakan yang lebih kuat dan terkoordinasi, baik dari sisi fiskal maupun moneter. Langkah ini penting untuk menjaga ketahanan ekonomi sekaligus tetap mendorong pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru