Loading
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan usai menghadiri acara penyerahan sejumlah alutsista udara di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta, Senin (18/5/2026). ANTARA/Maria Cicilia Galuh.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran sebagian pelaku pasar. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding krisis moneter 1998.
Menurut Purbaya, situasi ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang stabil dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap berjalan positif. Karena itu, ia menilai kekhawatiran bahwa Indonesia akan kembali mengalami krisis seperti 1998 tidak memiliki dasar yang kuat.
“Kalau rupiah melemah lalu dianggap akan kembali seperti 1998, itu berbeda. Tahun 1998 terjadi karena kombinasi kebijakan yang salah dan ketidakstabilan sosial-politik setelah Indonesia mengalami resesi,” kata Purbaya usai menghadiri acara penyerahan pesawat di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Baca juga:
Gejolak dan Mengawal RupiahIa menjelaskan, pada pertengahan 1997 Indonesia sudah masuk fase resesi ekonomi sebelum akhirnya krisis moneter meledak pada 1998. Kondisi saat ini, lanjutnya, masih jauh berbeda karena aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak dan pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi
Di tengah tekanan pasar global, pemerintah juga mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas keuangan nasional. Salah satunya dengan meningkatkan intervensi di pasar obligasi negara.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pergerakan surat utang negara agar investor asing tidak melakukan aksi jual besar-besaran yang dapat memicu capital loss akibat turunnya harga obligasi.
Selain itu, pemerintah juga terus memantau pergerakan pasar saham yang sempat mengalami koreksi. Pada perdagangan Senin pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah hingga menyentuh level 6.628.
Meski demikian, Purbaya menilai penurunan tersebut lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dan bukan karena melemahnya fundamental ekonomi Indonesia.
Investor Diminta Tidak Panik
Menkeu juga mengimbau investor domestik agar tidak terbawa kepanikan akibat fluktuasi pasar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Ia bahkan menilai koreksi yang terjadi saat ini bisa menjadi momentum bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham.
“Investor pasar saham tidak perlu terlalu khawatir. Kalau melihat teknikal pasar, biasanya dalam satu sampai dua hari sudah kembali pulih,” ujarnya dikutip Antara.
Berdasarkan data perdagangan pasar uang pada Senin pagi, nilai tukar rupiah tercatat melemah 33 poin atau sekitar 0,19 persen menjadi Rp17.630 per dolar AS. Angka tersebut turun dibanding penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.597 per dolar AS.
Meski rupiah mengalami tekanan, pemerintah optimistis stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga seiring kuatnya fondasi ekonomi domestik dan langkah antisipatif yang terus dilakukan pemerintah.