Trump vs Vatikan Memanas, Pejabat AS Terbelah soal Peringatan Paus Leo tentang AI


 Trump vs Vatikan Memanas, Pejabat AS Terbelah soal Peringatan Paus Leo tentang AI Perseteruan Donald Trump dan Vatikan memasuki babak baru setelah Paus Leo XIV memperingatkan bahaya AI. (Ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan antara pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Vatikan kembali memanas. Kali ini, perdebatan muncul setelah Paus Leo XIV mengeluarkan peringatan keras mengenai bahaya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Perselisihan itu bahkan memunculkan perbedaan pandangan di internal pemerintahan Trump sendiri. Sejumlah pejabat Gedung Putih terlihat tidak sejalan dalam merespons seruan Paus terkait pengawasan teknologi AI.

Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum secara terbuka menolak pandangan Paus Leo XIV. Dalam wawancara dengan Fox Business, Burgum mempertanyakan apakah seorang Paus perlu ikut memberikan penilaian terhadap perkembangan teknologi.

“Saya tidak tahu bahwa memberikan opini editorial tentang teknologi adalah bagian dari peran seorang Paus,” ujarnya.

Komentar tersebut merujuk pada ensiklik pertama Paus Leo XIV, dokumen resmi Vatikan yang membahas ancaman AI terhadap masa depan manusia. Dalam dokumen itu, Paus memperingatkan bahwa AI berpotensi menggantikan tenaga kerja manusia, memperlebar ketimpangan sosial, hingga menciptakan sistem senjata mematikan yang lepas dari kendali manusia.

Namun di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance justru memberikan respons berbeda. Dalam wawancara dengan NBC, Vance memuji sikap Paus dan menyebut pesan Vatikan sebagai bentuk kepemimpinan moral yang penting di tengah era perkembangan AI.

Perbedaan pandangan itu memperlihatkan rumitnya posisi politik Trump. Di satu sisi, Trump menjadikan dominasi AI dan deregulasi teknologi sebagai agenda utama ekonomi pemerintahannya. Namun di sisi lain, langkah tersebut memicu kritik dari kelompok agama, akademisi, hingga pegiat etika teknologi.

Profesor teologi dari Duke Divinity School, Peter Casarella, menilai pemerintahan Trump tampak mulai berhati-hati dalam menyikapi kritik Vatikan.

“Wakil presiden tampaknya sekarang menarik kembali kritik sebelumnya ketika dia mengatakan Paus Leo perlu mempelajari lebih banyak teologi,” katanya.Paus Leo XIV sendiri mengeluarkan pernyataan itu setelah Trump menunda aturan keamanan AI yang sebelumnya dirancang untuk menciptakan mekanisme peninjauan sukarela terhadap teknologi kecerdasan buatan.

Keputusan tersebut diambil setelah tekanan dari industri teknologi yang menilai pengawasan terlalu ketat dapat menghambat persaingan Amerika Serikat dengan China dalam perlombaan AI global.

Meski begitu, sejumlah kelompok Katolik dan pemerhati keluarga justru mendukung sikap Vatikan. Mereka khawatir AI yang berkembang tanpa pengawasan dapat memicu persoalan serius bagi dunia kerja, kehidupan keluarga, hingga keamanan anak-anak.

Michael Toscano dari Family First Technology Initiative menyebut kelompok teknologi di sekitar Gedung Putih terlalu mendominasi arah kebijakan AI Amerika Serikat.

Ia menilai dorongan Paus untuk menghadirkan pengamanan etis terhadap AI justru menjadi langkah yang penting.

Menurut laporan dan dikutip dari CNBC, perdebatan soal AI kini menjadi babak terbaru dalam hubungan yang semakin panas antara Gedung Putih dan Vatikan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Paus Leo XIV beberapa kali mengkritik kebijakan Trump, mulai dari deportasi massal, konflik Iran, hingga pendekatan geopolitik Amerika Serikat.

Trump pun tidak tinggal diam. Presiden AS itu beberapa kali menyerang balik Paus Leo dengan menyebutnya lemah dalam menghadapi kejahatan dan terlalu dekat dengan kelompok kiri.

Situasi semakin menarik karena Paus Leo juga menggandeng Christopher Olah, salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, saat meluncurkan ensiklik tersebut. Anthropic diketahui pernah berselisih dengan pemerintahan Trump terkait akses teknologi AI untuk kepentingan militer AS.

Pengamat politik menilai konflik terbuka antara Trump dan Vatikan berpotensi memengaruhi dukungan pemilih Katolik di Amerika Serikat.

Kelompok pemilih Katolik selama ini menjadi salah satu basis penting kemenangan Partai Republik. Pada Pemilu 2024, Trump berhasil memperoleh dukungan mayoritas pemilih Katolik dibanding kandidat Demokrat Kamala Harris.

Namun analis politik dari Washington University di St. Louis, Ryan Burge, menilai konflik berkepanjangan dengan Paus dapat menjadi bumerang bagi Trump, terutama menjelang pemilu sela mendatang.

“Jika isu inflasi, perang, dan konflik dengan Paus terus muncul bersamaan, itu bisa menjadi alasan tambahan bagi sebagian pemilih untuk meninggalkan Trump,” katanya.

Ia juga menilai Partai Demokrat berpotensi memanfaatkan kritik Paus terhadap AI dan Silicon Valley sebagai materi kampanye untuk menarik pemilih Katolik moderat.

Menurut Burge, komentar Trump yang menyerang Paus bisa menjadi bahan iklan politik yang efektif di distrik-distrik dengan mayoritas pemilih Katolik.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru