KEK Palu Jadi Pusat Industri Baterai, Proyek BESS Serap Investasi Rp30 Triliun


 KEK Palu Jadi Pusat Industri Baterai, Proyek BESS Serap Investasi Rp30 Triliun PT Bangun Palu Sulawesi Tengah dan Aslan Energy Capital menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pengembangan proyek Battery Energy Storage System (BESS) di KEK Palu, Jakarta, Senin (18/5/2026). ANTARA/HO-Sekjen KEK.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu, Sulawesi Tengah, mulai memasuki babak baru pengembangan industri energi bersih. PT Bangun Palu Sulawesi Tengah bersama Aslan Energy Capital resmi memulai pengembangan proyek Battery Energy Storage System (BESS) atau sistem penyimpanan energi berbasis baterai dengan nilai investasi mencapai 1,75 miliar dolar AS atau sekitar Rp30 triliun.

Langkah awal proyek strategis ini ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara kedua perusahaan. Kehadiran proyek tersebut diharapkan memperkuat posisi KEK Palu sebagai pusat hilirisasi industri energi bersih di Indonesia timur.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, mengatakan pemerintah optimistis investasi baru di sektor energi dan teknologi akan meningkatkan daya saing KEK Palu sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, investasi ini juga diproyeksikan menciptakan efek berganda bagi ekonomi daerah, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga berkembangnya sektor pendukung industri.

BESS sendiri merupakan teknologi penyimpanan energi berskala besar yang menggunakan baterai untuk menangkap, menyimpan, dan mendistribusikan kembali energi listrik. Teknologi ini dapat menyimpan energi dari panel surya, turbin angin, maupun jaringan listrik utama untuk digunakan sesuai kebutuhan.

Dukung Hilirisasi Nikel dan Kendaraan Listrik

Proyek tersebut akan dikembangkan secara bertahap. Pada fase awal, fasilitas BESS Gigafactory ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 8 GWh per tahun dan berpotensi meningkat menjadi 12 hingga 15 GWh pada tahap ekspansi berikutnya.

Selain memproduksi sistem penyimpanan energi skala besar, proyek ini juga akan mendukung pengembangan energi terbarukan, infrastruktur pengisian kendaraan listrik, hingga kebutuhan ekspor ke kawasan ASEAN, Australia, dan Amerika Serikat.

Tak hanya itu, pengembangan kawasan industri ini juga mencakup pembangunan LNG Hub sebagai bagian dari penguatan ekosistem energi di KEK Palu.

Pemerintah menilai proyek tersebut akan memperbesar pemanfaatan potensi nikel Sulawesi Tengah dalam rantai pasok baterai global. Indonesia sendiri saat ini terus mendorong hilirisasi nikel untuk memperkuat industri kendaraan listrik nasional.

Ribuan Lapangan Kerja Baru

Pengembangan proyek BESS Gigafactory diperkirakan mampu membuka sekitar 1.300 lapangan kerja langsung dan lebih dari 3.000 pekerjaan tidak langsung melalui rantai pasok industri maupun sektor pendukung lainnya.

Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, menilai investasi tersebut akan memberikan dampak besar terhadap ekonomi daerah.

Menurutnya, masuknya investasi berskala besar seperti ini akan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kota Palu sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.

KEK Palu sendiri merupakan kawasan industri strategis di Sulawesi Tengah yang dikembangkan untuk mendukung sektor manufaktur, logistik, energi, hingga hilirisasi sumber daya alam.

Dengan luas kawasan mencapai 1.500 hektare dan didukung konektivitas Pelabuhan Pantoloan, kawasan ini dinilai memiliki posisi penting dalam mendukung perdagangan domestik maupun ekspor di wilayah Indonesia Timur.

Potensi Data Center dan Energi Masa Depan

CEO Aslan Energy Capital, Muthu Chezian, mengatakan pihaknya telah mempelajari potensi KEK Palu cukup lama sebelum memutuskan masuk ke Indonesia.

Ia menilai ketersediaan sumber daya alam, terutama nikel, menjadi daya tarik utama investasi. Selain itu, kebijakan hilirisasi yang dijalankan pemerintah Indonesia juga dinilai mendukung pertumbuhan industri baterai global.

Muthu juga melihat peluang besar penggunaan BESS untuk mendukung pengembangan pusat data atau data center di masa depan. Menurutnya, banyak pusat data global mulai beralih dari sistem UPS konvensional ke teknologi BESS karena dinilai lebih efisien dan mampu meningkatkan standar operasional pusat data dikutip Antara.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bangun Palu Sulawesi Tengah, Sony Panukma Widianto, memastikan kesiapan perusahaan dalam menyediakan lahan industri sekitar 40 hektare untuk pembangunan gigafactory tersebut.

Ia menegaskan pihak pengelola KEK Palu siap mendukung kebutuhan infrastruktur dan fasilitas agar ekosistem industri energi bersih dapat berkembang optimal di kawasan tersebut.

Pemerintah berharap proyek BESS di KEK Palu dapat segera terealisasi sepenuhnya dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam industri baterai global.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru