Jumat, 14 Agustus 2026

BI Catat Transaksi Pembayaran Digital Tumbuh 28,14 Persen, QRIS Melonjak Hampir 100 Persen


 BI Catat Transaksi Pembayaran Digital Tumbuh 28,14 Persen, QRIS Melonjak Hampir 100 Persen Gubernur BI Perry Warjiyo berbicara dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI Bulan Juni 2026 di Jakarta, Kamis (18/6/2026). ANTARA/Bayu Saputra

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Transformasi digital di sektor keuangan Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang kuat. Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,22 miliar transaksi sepanjang Mei 2026, tumbuh 28,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Gubernur Perry Warjiyo mengatakan peningkatan tersebut didorong oleh semakin luasnya penggunaan layanan pembayaran digital di berbagai lapisan masyarakat, baik oleh konsumen maupun pelaku usaha.

Menurut Perry, transaksi melalui aplikasi mobile banking tumbuh 26,16 persen secara tahunan, sementara transaksi melalui internet banking meningkat 15,51 persen. Namun, pertumbuhan paling mencolok terjadi pada penggunaan QRIS yang melonjak hingga 95,10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kinerja positif tersebut didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

QRIS dan BI-FAST Jadi Penopang Ekosistem Digital

Pesatnya pertumbuhan transaksi digital juga tercermin dari kinerja infrastruktur pembayaran nasional. Sepanjang Mei 2026, volume transaksi ritel yang diproses melalui sistem BI-FAST mencapai 518 juta transaksi atau tumbuh 31,63 persen secara tahunan.

Dari sisi nilai, transaksi yang diproses melalui BI-FAST mencapai Rp1.265 triliun. Angka tersebut menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan transfer dana yang cepat, efisien, dan berbiaya rendah.

Sementara itu, transaksi bernilai besar yang diproses melalui sistem BI-RTGS tercatat sebanyak 0,78 juta transaksi. Nilainya mencapai Rp15.618 triliun atau meningkat 8,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peredaran Uang Rupiah Tetap Meningkat

Di tengah pesatnya digitalisasi transaksi, penggunaan uang tunai masih menunjukkan pertumbuhan. Bank Indonesia mencatat Uang Kartal yang Diedarkan (UYD) mencapai Rp1.324 triliun pada Mei 2026, meningkat 15,80 persen secara tahunan.

Data tersebut menunjukkan bahwa transaksi digital dan penggunaan uang tunai masih berjalan berdampingan dalam mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Stabilitas Sistem Pembayaran Tetap Terjaga

Bank Indonesia menegaskan stabilitas sistem pembayaran nasional tetap berada dalam kondisi yang terjaga. Hal ini didukung oleh infrastruktur yang andal, industri yang sehat, serta pasokan uang rupiah yang memadai di seluruh wilayah Indonesia.

Selain itu, interkoneksi antarpelaku industri pembayaran terus diperkuat untuk memperluas ekosistem ekonomi dan keuangan digital nasional.Ke depan, BI akan terus memperkuat struktur industri sistem pembayaran, terutama dalam aspek manajemen risiko dan keandalan infrastruktur teknologi.

Langkah tersebut sejalan dengan implementasi regulasi terbaru mengenai pengaturan industri sistem pembayaran dikutip Antara.

Sebagai bank sentral, BI juga memastikan ketersediaan uang rupiah yang cukup dan layak edar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T), guna mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat.

Pertumbuhan transaksi pembayaran digital yang mencapai 28,14 persen pada Mei 2026 menjadi sinyal kuat bahwa transformasi ekonomi digital Indonesia terus bergerak maju. Lonjakan penggunaan QRIS, meningkatnya transaksi melalui BI-FAST, serta terjaganya stabilitas sistem pembayaran menunjukkan fondasi yang semakin kuat bagi perkembangan ekonomi digital nasional di masa depan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru