Foto udara kawasan tambak garam di Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. (ANTARA/HO-KKP)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah terus mempersiapkan Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu pusat produksi garam terbesar di Indonesia. Tak hanya membangun kawasan industri, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga mulai menyiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal agar mampu mengelola industri garam modern secara profesional.
Sebagai langkah awal, KKP memberikan pelatihan sekaligus sertifikasi kompetensi kepada 25 warga lokal yang diproyeksikan menjadi bagian dari pengelolaan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao.
Direktur Sumber Daya Kelautan KKP, Frista Yorhanita, mengatakan penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem industri garam nasional yang terintegrasi. Menurutnya, keberhasilan kawasan industri tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kualitas SDM yang mengelolanya.
"KKP membekali masyarakat dengan pengetahuan, keterampilan, dan sertifikasi kompetensi agar mereka dapat menjadi bagian dari pengelolaan industri garam nasional yang modern dan berdaya saing," ujar Frista dalam keterangannya di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Pelatihan untuk Warga Tiga Desa
Pelatihan berlangsung di Kupang pada 3–5 Juli 2026 dan diikuti oleh warga dari Desa Matasio, Desa Serubeba, dan Desa Lakamola di Kecamatan Rote Timur. Selain itu, lima peserta berasal dari Balai Besar Produksi Garam Kupang.
Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi yang cukup lengkap, mulai dari komunikasi efektif, teknik produksi garam, pengoperasian peralatan, hingga penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Di akhir pelatihan, peserta mengikuti sertifikasi kompetensi sebagai bekal memasuki industri garam nasional.
Dorong Lapangan Kerja dan Ekonomi Pesisir
Menurut Frista, peningkatan kompetensi masyarakat sekitar kawasan industri diharapkan memberi manfaat yang lebih luas, tidak hanya meningkatkan produksi garam nasional, tetapi juga membuka peluang kerja baru dan mendorong tumbuhnya berbagai usaha pendukung.
KKP optimistis masyarakat pesisir dapat menjadi pelaku utama dalam pengembangan kawasan industri garam sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga setempat.
"Keberhasilan pembangunan K-SIGN tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia yang kompeten," katanya dikutip Antara.
Proyek Strategis untuk Kurangi Impor Garam
K-SIGN merupakan salah satu proyek strategis KKP yang dikembangkan di Kabupaten Rote Ndao sebagai pusat produksi garam nasional.
Kawasan ini diharapkan mampu meningkatkan produksi sekaligus kualitas garam dalam negeri sehingga secara bertahap dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor garam, yang selama ini masih memenuhi sekitar 60 persen kebutuhan nasional.
Dalam jangka panjang, proyek tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 26 ribu tenaga kerja.
Secara keseluruhan, kawasan K-SIGN mencakup lahan seluas 10.764 hektare yang tersebar di 13 desa pada tiga kecamatan, yakni Landu Lenko, Pantai Baru, dan Rote Timur, termasuk wilayah perairan di Teluk Pantai Baru.
Hingga berita ini disusun, KKP belum memberikan tanggapan lebih lanjut mengenai perkembangan terbaru pembangunan kawasan, termasuk progres operasional maupun jadwal dimulainya produksi garam di K-SIGN Rote Ndao.