Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono dalam Jumpa Pers Berita Resmi Statistik di Jakarta, Rabu (1/7/2026). (ANTARA/AMuzdaffar Fauzan)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,88 persen pada Juli 2026. Kenaikan ini mencerminkan masih berlangsungnya peningkatan harga berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa inflasi tersebut tercermin dari naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026.
"Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) hingga Juli 2026 mencapai 1,65 persen.
Sementara itu, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm), Indonesia justru mengalami deflasi sebesar 0,14 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan harga secara bulanan, meskipun secara tahunan tren kenaikan harga masih tetap berlangsung.
Data inflasi menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur stabilitas ekonomi nasional. Angka ini juga menjadi acuan bagi pemerintah dan pelaku usaha dalam menyusun kebijakan ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, serta mengendalikan laju kenaikan harga di tengah dinamika perekonomian global.