Senin, 17 Agustus 2026

Bursa Mineral 2027 Jangan Langsung Banyak Komoditas, Ekonom Sarankan Mulai dari 1–2


 Bursa Mineral 2027 Jangan Langsung Banyak Komoditas, Ekonom Sarankan Mulai dari 1–2 Foto udara pekerja mengoperasikan alat berat di Smelter PT VDNI di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Jumat (16/1/2026). ANTARA FOTO/Andry Denisah/agr/pri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Rencana pemerintah mengoperasikan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) mulai 2027 mendapat catatan dari ekonom. Alih-alih langsung memasukkan banyak komoditas, pemerintah disarankan memulai dari satu hingga dua komoditas terlebih dahulu.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai langkah tersebut penting untuk membangun likuiditas, kredibilitas, dan kepercayaan pasar sejak awal.

Menurut Yusuf, target pemerintah untuk memasukkan sejumlah komoditas seperti sawit, nikel, timah, batu bara, emas, kopi, dan karet sekaligus pada awal 2027 tergolong cukup ambisius.

“Kalau terlalu banyak sejak awal, pemerintah perlu memastikan seluruh komoditas tersebut memiliki kesiapan pasar dan mekanisme perdagangan yang kuat,” kata Yusuf saat dihubungi di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Fokus pada Komoditas yang Punya Kekuatan Global

Yusuf menyarankan pemerintah memilih komoditas yang memiliki posisi kuat dalam rantai pasok global, tetapi belum mempunyai harga acuan internasional yang terlalu dominan.

Salah satu yang dinilai potensial adalah nickel pig iron (NPI). Indonesia memiliki posisi penting dalam rantai pasok komoditas tersebut sehingga peluang untuk membangun harga referensi Indonesia dinilai cukup terbuka.

“Produk seperti nickel pig iron lebih menarik karena kita bisa membangun tolok ukur baru, bukan langsung berhadapan dengan benchmark yang sudah puluhan tahun digunakan,” ujarnya dikutip Antara.

Menurut Yusuf, strategi tersebut dapat membuat BMKS memiliki ruang untuk membangun kredibilitasnya secara bertahap. Setelah pasar mulai terbentuk dan likuiditas meningkat, cakupan komoditas dapat diperluas.

Bursa Mineral Tidak Otomatis Membuat Harga Naik

Meski kehadiran BMKS dinilai strategis, Yusuf mengingatkan bahwa keberadaan bursa tidak otomatis membuat harga komoditas Indonesia menjadi lebih tinggi.

Manfaat utama bursa, menurut dia, justru berada pada terciptanya perdagangan yang lebih transparan dan efisien.

Dengan adanya mekanisme perdagangan yang lebih terbuka, BMKS diharapkan dapat mempersempit ruang praktik under-invoicing atau pelaporan nilai transaksi yang lebih rendah dari nilai sebenarnya.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membantu memperbaiki basis pengenaan pajak sekaligus menekan biaya transaksi.

Artinya, keberhasilan BMKS tidak hanya diukur dari apakah harga komoditas Indonesia menjadi lebih mahal, tetapi juga dari seberapa baik bursa tersebut mampu menciptakan price discovery, transparansi, dan efisiensi perdagangan.

OJK Masih Menunggu Perpres

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi sebelumnya mengatakan bahwa sejumlah mineral dan komoditas telah disiapkan untuk masuk dalam BMKS.

Namun, OJK belum mengungkapkan secara rinci daftar komoditas tersebut. Pemerintah masih menunggu Peraturan Presiden (Perpres) yang akan menjadi dasar penyelenggaraan bursa.

Pemerintah sendiri menargetkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.

BMKS diharapkan menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun Indonesia Reference Price (IRP) atau harga referensi Indonesia bagi sejumlah komoditas strategis.

Menyatukan Produsen hingga Investor

Lebih jauh, pemerintah menargetkan BMKS mampu menciptakan pasar komoditas yang lebih dalam, transparan, dan likuid.

Bursa tersebut diharapkan dapat mempertemukan berbagai pelaku dalam satu ekosistem perdagangan, mulai dari produsen, petani, eksportir, pembeli, hingga investor.

Jika dibangun dengan tata kelola yang kuat dan didukung data transaksi yang terbuka serta kredibel, BMKS berpotensi menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas global.

Namun, seperti diingatkan ekonom, tantangan awalnya bukan sekadar menghadirkan banyak komoditas di dalam bursa. Membangun pasar yang likuid, dipercaya pelaku usaha, dan mampu menghasilkan harga referensi yang kredibel justru menjadi pekerjaan penting sebelum BMKS diperluas.


 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru