Selasa, 27 Januari 2026

Sanlat Ramadan, antara Syiar, Kepedulian Lingkungan, dan Pendidikan Karakter


 Sanlat Ramadan, antara Syiar, Kepedulian Lingkungan, dan Pendidikan Karakter Pesantren Kilat Ramadhan 1439 Hijriah/2018. (Istimewa)

KEGIATAN Pesantren Kilat Ramadan semacam ini, jelas memberikan makna kuat dan positif, karena selain untuk syiar Ramadan, bagi peserta, baik pelajar, mahasiswa, santri pondok pesantren dan kelompok lainnya, bisa mendapatkan tambahan ilmu, apakah dengan isu dan agenda lingkungan hidup, pendidikan karakter atau lainnya.

Penilaian itu disampaikan Direktur Pemberitaan LKBN Antara Achmad Munir ketika memberikan sambutan tertulis pada kegiatan Pesantren Kilat Ramadan 1439 Hijriah/2018 bertema "Sumbangsih Generasi Muda pada Perbaikan Lingkungan Hidup Berbasis Pendidikan Karakter", yang digagas bersama antara Serikat Pekerja ANTARA (SPA) dengan Yayasan IDS Rumah Pendidikan Indonesia, yang dipusatkan di Kompleks Perguruan SMK Wikrama, Kota Bogor, Jawa Barat, selama dua hari (2-3/6/2018).

Pesantran Kilat (Sanlat) Ramadan yang didukung mitra kerja sama, yakni Yayasan Baitul Mal (YBM) BRI, Indocement, Taman Safari Indonesia, RS Pelni, Pelindo III, Alfamart, Maram, SMK Wikrama, APP, Indofood, Kemensos, BPJS Kesehatan, RS Harapan Sehati Cibinong diikuti 100 peserta, yang terdiri atas pelajar SLTA, mahasiswa perguruan tinggi negeri dan swasta, santri pondok pesantren dari kawasan Jabodetabek dan daerah lain.

Sejumlah narasumber, baik pakar lingkungan hidup, pakar pendidikan, serta pembicara lain memotivasi peserta untuk bisa berkiprah secara maksimal.

Ketua SPA Abdul Gofur menyatakan Sanlat Ramadan adalah agenda tetap organisasi yang dipimpinnya itu, yang selalu digagas secara kolaboratif dengan berbagai kalangan, baik kementerian, dunia bisnis, serta komunitas terkait lainnya, sesuai tema.

Kegiatan yang sudah berlangsung hingga tahun ketujuh ini, pernah menghadirkan Menteri BUMN kala itu Dahlan Iskan, Kepala BNP2TKI M Jumhur Hidayat, Menpora Imam Nahrawi dan juga lainnya.

"Kami merangkul semua pihak yang bisa bersinergi, dan sekaligus membuktikan organisasi serikat pekerja juga peduli dengan agenda-agenda pemberdayaan generasi muda, yang tidak harus terkait langsung dengan SP," kata Abdul Gofur.

Ia menambahkan Sanlat Ramadan pada 2015 SPA bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk isu-isu literasi jasa keuangan syariah.

Sementara dengan Kemensos, isu mengenai bahaya pornografi dan narkoba bagi kalangan muda juga diusung sebagai tema utama yang didiskusikan melalui Sanlat Ramadan.

"Kami terus membuka diri dengan berbagai kalangan untuk bekerja sama mengusung tema-tema lain yang strategis untuk dibedah melalui Sanlat Ramadan," tambahnya.

"Syahrut Tarbiyah" Ketua panitia pelaksana kegiatan Sanlat Ramadan 2018 Budi Santoso menjelaskan kegiatan ini bertujuan menyemarakkan Ramadan sebagai "Syahrut Tarbiyah" atau bulan pendidikan dengan kegiatan edukatif, mencerdaskan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Selain itu, menularkan jiwa dan karakter pemuda agar memiliki tekad kuat sebagai pelopor perubahan di masa mendatang."Kami mendorong generasi muda Indonesia untuk tampil terdepan dalam penyelamatan lingkungan hidup serta menanamkan spirit nasionalisme, jiwa kebangsaan dan cinta Tanah Air di kalangan generasi muda," katanya.

Khusus isu lingkungan, pihaknya ingin menularkan budaya sadar lingkungan hidup dan mendorong terbangunnya pemuda kritis, pembelajar dan bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

General Manager Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia (YBM-BRI) Dwi Iqbal Novianto mengajak generasi muda Muslim Indonesia memiliki sudut pandang mendunia dalam mengembangkan dirinya.

"Lihat Rasulullah Muhammad SAW, beliau lahir di Makkah dan meninggal di Madinah, maka untuk bisa berkembang kita perlu merantau dan mengumpulkan wawasan yang banyak," katanya Iqbal menyampaikan generasi Y atau generasi muda memiliki kesempatan yang masih sangat banyak untuk berkiprah bagi masa depan dirinya maupun bangsanya.

"Bila generasi muda bisa mengetahui cara mengembangkan wawasan dan pergaulan yang positif secara luas dan tidak mudah putus asa, generasi muda Muslim bisa meraih apa yang seharusnya ia dapat secara optimal sesuai bakat yang diberikan Allah SWT kepadanya," katanya.

Ia mengajak semua orang untuk berbaik sangka terhadap potensi dan takdir Allah SWT seberat apapun itu sebagai kebaikan yang berhikmah.

Kaum muda perlu terus mendorong dirinya bersemangat mengenali bakat dan bangkit dari keterpurukan atau kegagalan yang berulang dengan tekad yang kuat beristikamah meraih kesuksesannya.

Jika sudah mengenali bakat, kata dia, baiknya setiap pemuda tetap pada bakatnya dan mengembangkannya, bukan berpaling kepada bidang lain.

Dengan begitu, ragam profesi yang sebenarnya Allah SWT sudah titipkan dalam diri setiap orang untuk saling melengkapi akan terlaksana dengan berkah.

"Terakhir, jangan lupa berdoa sebagai penutup. Karena yang terpenting bukanlah menyesali, seterpuruk apapun kita, pasti bisa bangkit dengan shalat, berbakti pada orang tua, ikhtiar dan doa," kata Iqbal.

Efektifkan waktu Praktisi pendidikan nasional yang juga Direktur IDS Rumah Pendidikan Indonesia Itasia Dina Sulvianti mengulas cara mengefektifkan waktu yang harus dipahami generasi muda Muslim di Indonesia.

"Kita tidak pernah tahu umur sampai kapan. Karenanya kita harus efektif agar kita bisa melejit dalam mengisi kehidupan untuk menuju surga dengan rujukan Al Quran," katanya.

Staf pengajar di Departemen Statistika FMIPA IPB itu mengingatkan generasi muda Muslim memahami cara dan dasar ilmu yang membantu mereka menjadi manusia Indonesia yang efektif dalam mengisi kehidupannya.

"Setiap orang harus mengetahui terlebih dahulu ilmu dalam meraih manfaat hidup agar terkabul dan terlaksana sesuai yang tertera dalam Al Quran,"katanya sebagaimana diulas dalam spektrum Antara.

Sedangkan Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (SP3) IPB Dr Sofyan Sjaf memberikan paparan tentang keniscayaan gererasi muda yang harus berani tampil sebagai inovator menggerakkan ekonomi desa.

Ia menegaskan potensi sumber daya alam Indonesia begitu besar namun belum banyak pemuda yang menggarap secara optimal apa yang telah Allah SWT telah limpahkan kepada Indonesia.

Dalam kaitan itu, ia mengungkap SP3 IPB tengah mencetak ribuan inovator yang akan terjun menggerakkan ekonomi di desa-desa.

Kehatan Puasa

Agenda lain dalam kegiatan Sanlat Ramadan 2018 itu adalah pembahasan mengenai aspek kesehatan dalam puasa.Praktisi kesehatan dari RSUD Kota Bogor dr Suksmono H Sp.SP mengupas pengaruh puasa bagi pasien ginjal, yang sebenarnya bermanfaat menaikkan fungsi organ tubuh vital tersebut.

"Saya banyak didatangi pasien geriatri dulu, boleh tidaknya puasa. Saya katakan puasa saja," katanya.

Ia mengatakan sejak ia melakukan penelitian bersama timnya sekitar tahun 1990-an, sudah terungkap manfaat puasa bagi pasien geriatri bahwa puasa justru baik bagi kesehatannya.

Sehingga dengan hasil riset itu, menurut dokter spesialis ginjal asal RSUD Kota Bogor itu dirinya semakin yakin untuk merekomendasikan puasa bagi pasiennya.

Semula banyak keluarga pasien yang memprotes jawabannya, yang membolehkan puasa bagi penderita penyakit ginjal, khususnya bagi golongan geriatri dengan alasan khawatir terhadap risiko kesehatan.

Atas dasar tersebut Suksmono dan tim melakukan penelitian untuk menemukan jawaban yang mendasar secara medis.

Hasilnya, pada 10 hari pertama karena belum terbiasa memiliki disiplin yang standar, dari skala 1-100 kondisi ginjal pasien bermula di skor 47 kemudian turun menjadi 42.

Lalu hingga 20 hari puasa, skor hanya naik sedikit di angka 45 dan baru melonjak menjadi 54 pada 30 hari terakhir.

Artinya, kata dia, tubuh hanya membutuhkan penyesuaian terhadap kondisi dan kedisiplinan pasien dari makanan dan aktifitas sehari-hari maupun rutinitas cek kesehatan ke dokter.

Menurutnya, hal ini adalah membuktikan bahwa tidak makan yang balut dengan niat ibadah berbeda dengan kosongnya perut akibat telat makan.

"Kalau puasa dibarengi niat karena Allah, mungkin niat dan keyakinan inilah yang membuat Allah menunjukan kekuasaannya justru memberi dampak positif bagi kesehatan," katanya.

Sanlat Ramadan 2018 itu kemudian dilengkapi dengan penampilan tim edukasi dan konservasi satwa liar dari Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, yang membawa satwa burung dan peta mengenai ancaman kepunahan pada satwa di Tanah Air.

Kerja bersama dan sinergis seperti Sanlat Ramadan disebut Ketua Tanfidziah Nandhatul Ulama (NU) Bogor Ifan Haryanto adalah wujud dari kebarahakan bulan suci bagi umat Islam itu.

"Sanlat ini membawa kebarakahan dari Ramadan, sehingga harus diagendakan setiap tahun saat kaum Muslim diberi kesempatan bertemu bulan yang penuh rahmat, barakah, maghfirah dan pembebasan dari api neraka ini," katanya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Feature Terbaru