Senin, 09 Februari 2026

Malala Yousafzai: Suara Keberanian dari Pakistan yang Mengubah Wajah Pendidikan Dunia


 Malala Yousafzai: Suara Keberanian dari Pakistan yang Mengubah Wajah Pendidikan Dunia Aktivis Pakistan Malala Yousafzai, peraih Nobel termuda, menyampaikan pidato di ICC Sydney Theatre di Sydney. (Sumber: Getty Images)

GLOBAL HARMONY | HARMONY LEADERS

TIDAK banyak remaja yang berani menantang arus besar tradisi dan kekerasan. Namun Malala Yousafzai memilih jalan itu, bahkan ketika nyawanya sendiri menjadi taruhan. Dari sebuah kota kecil di Lembah Swat, Pakistan, ia mengirim pesan sederhana tetapi mengguncang dunia: setiap anak perempuan berhak duduk di bangku sekolah.

Sejak kecil Malala tumbuh di keluarga yang mencintai pendidikan. Ayahnya seorang guru yang percaya bahwa buku bisa lebih tajam daripada senjata. Keyakinan itu menular pada Malala. Saat banyak anak seusianya hanya memikirkan permainan, ia justru sibuk menulis catatan harian tentang betapa sulitnya anak perempuan bersekolah di bawah bayang-bayang ekstremisme.

Keberanian Malala memuncak ketika ia secara terbuka mengkritik larangan sekolah bagi perempuan. Suaranya yang jujur membuatnya dikenal, tetapi juga menjadikannya sasaran. Tahun 2012, sebuah serangan bersenjata hampir merenggut hidupnya. Dunia terhenyak, namun Malala justru bangkit dengan tekad lebih kuat.

Setelah selamat, perjuangannya tidak berhenti. Ia mendirikan Malala Fund untuk membantu jutaan anak perempuan mendapatkan akses pendidikan. Di berbagai forum internasional, Malala mengingatkan para pemimpin bahwa sekolah bukan sekadar gedung, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih adil.

Tahun 2014, namanya tercatat dalam sejarah sebagai penerima Nobel Perdamaian termuda. Penghargaan itu bukan akhir perjalanan, melainkan awal babak baru. Malala terus berkeliling dunia, bertemu para pengungsi, berdialog dengan pemerintah, dan mendengarkan mimpi anak-anak yang ingin menjadi dokter, guru, atau ilmuwan.

Kisah Malala menunjukkan bahwa harmoni global tidak lahir dari kata-kata besar, melainkan dari keberanian melindungi hak paling mendasar: belajar. Ia membuktikan bahwa satu suara, meski berasal dari gadis belia, mampu menyalakan harapan lintas negara dan budaya dirangkum dari berbagai sumber.

Di tengah dunia yang kerap terpecah oleh konflik, Malala menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah bahasa universal perdamaian. Selama masih ada anak yang terhalang pergi ke sekolah, perjuangannya belum selesai—dan kita semua diajak berjalan bersamanya.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Global Harmony Terbaru