Kamis, 05 Februari 2026

Karakter Kuat Jadi Fondasi Perdamaian Antariman di Indonesia


 Karakter Kuat Jadi Fondasi Perdamaian Antariman di Indonesia Presidium Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat PMKRI, Ferdinandus Wali Ate tampil sebagai salah satu Pembicara di 1st Indonesia Youth Empowerment Peace Class (YEPC) 2026 yang digelar di Universitas Mohammad Husni Thamrin, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (Foto: Istimewa)

GLOBAL HARMONY | INTER FIDEI

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Upaya merawat perdamaian dan harmoni antariman kembali mengemuka dalam penyelenggaraan 1st Indonesia Youth Empowerment Peace Class (YEPC) 2026 yang digelar di Universitas Mohammad Husni Thamrin, Jakarta, Kamis (29/1/2026). Forum ini mempertemukan mahasiswa, akademisi, tokoh masyarakat, serta pegiat perdamaian dari beragam latar belakang agama dan komunitas kepemudaan.

Mengusung tema “Interfaith Harmony Begins with Character”, forum ini menekankan pentingnya pembangunan karakter sebagai fondasi utama kehidupan bersama yang damai. Salah satu sorotan datang dari pemaparan Ferdinandus Wali Ate yang menegaskan bahwa keberagaman bukanlah sumber masalah utama dalam relasi antariman di Indonesia.

Menurutnya, tantangan sesungguhnya terletak pada lemahnya karakter dalam menyikapi perbedaan. Tanpa empati, keadilan, dan rasa tanggung jawab sosial, keberagaman mudah berubah menjadi sumber konflik. Sebaliknya, karakter yang matang justru mampu mengubah perbedaan menjadi kekuatan sosial.

Ia menilai berbagai konflik berbasis identitas agama yang masih muncul di sejumlah daerah bukan mencerminkan kegagalan iman, melainkan kegagalan membangun karakter manusia. Karena itu, pendidikan perdamaian tidak cukup berhenti pada slogan atau wacana normatif, tetapi harus menyentuh pembentukan sikap dan perilaku sehari-hari.

Dalam pemaparannya, isu harmoni antariman juga dikaitkan dengan persoalan keadilan sosial dan krisis ekologis. Ferdinandus menyoroti bagaimana ketimpangan ekonomi, pemutusan hubungan kerja, serta kerusakan lingkungan berkontribusi pada rapuhnya solidaritas sosial. Ketika kelompok rentan terpinggirkan dan alam dieksploitasi tanpa kendali, keadilan runtuh, dan harmoni sosial ikut terancam.

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai keimanan, apa pun latar agamanya, seharusnya hadir sebagai kekuatan pembebas—yang berpihak pada martabat manusia sekaligus kelestarian bumi sebagai rumah bersama. Dalam konteks Indonesia hari ini, pesan tersebut dinilai semakin relevan di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang kompleks.

Kegiatan YEPC 2026 ini terselenggara melalui kolaborasi lintas institusi dan organisasi kepemudaan lintas iman. Para penyelenggara berharap forum ini menjadi ruang tumbuhnya ekosistem pendidikan perdamaian yang mendorong kepemimpinan berkarakter, sikap toleran, dan semangat kolaborasi di kalangan generasi muda.

Menutup sesi refleksi, Ferdinandus mengajak kaum muda untuk secara sadar memilih jalan damai di tengah realitas sosial yang kerap terpolarisasi. Perdamaian, menurutnya, tidak hadir secara instan, melainkan lahir dari pilihan-pilihan kecil yang konsisten.

Cara berpikir, berbicara, dan memperlakukan sesama menjadi titik awal. Ketika pemuda memilih empati daripada prasangka, dialog daripada kekerasan, serta kerja bersama daripada polarisasi, di situlah harapan bagi masa depan Indonesia mulai bertumbuh.

Forum ini menegaskan bahwa gagasan perdamaian antariman bukan sekadar idealisme, melainkan agenda nyata yang berakar pada karakter, keadilan sosial, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Global Harmony Terbaru