Loading
Ilustrasi - Karhutla 2026 kembali meningkat dengan 11.189 hotspot, termasuk 1.351 titik api di konsesi perusahaan. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Indonesia. Dalam hampir empat pekan pertama Maret 2026, jumlah titik panas melonjak drastis—dan lagi-lagi, banyak ditemukan di area konsesi perusahaan.
Data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mencatat total 11.189 hotspot dengan berbagai tingkat kepercayaan. Dari jumlah itu, 1.351 titik api berada di dalam dan sekitar konsesi 15 perusahaan, mencakup sektor sawit, kehutanan, hingga pertambangan.
Rinciannya:
Yang mengkhawatirkan, sejumlah perusahaan tercatat berulang kali mengalami kebakaran setiap tahun. Ini memunculkan pertanyaan besar: apakah ini sekadar kebetulan—atau ada masalah serius dalam tata kelola?
Bukan Sekadar Cuaca, Ini Masalah Sistemik
Menurut WALHI, kebakaran yang terus berulang tidak bisa lagi hanya disalahkan pada faktor alam.
Koordinator Pengkampanye WALHI Nasional, Uli Arta Siagian, menegaskan bahwa kondisi tahun ini justru berpotensi lebih parah. Indonesia diperkirakan akan menghadapi kombinasi fenomena iklim ekstrem—El Niño kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif—yang dapat memperpanjang musim kemarau hingga Oktober 2026.
Artinya, risiko karhutla bukan hanya meningkat, tetapi juga bisa berlangsung lebih lama dan lebih luas.
Namun, persoalan utamanya bukan hanya iklim.
“Karhutla yang berulang menunjukkan tidak adanya kemajuan dalam penegakan hukum dan perbaikan tata kelola terhadap perusahaan,” tegas Uli.
Anggaran Minim, Ancaman Maksimal
Di tengah ancaman besar ini, kesiapan anggaran justru dinilai belum memadai.
Sebagai perbandingan:
Bahkan, pada karhutla 2015, dampaknya sangat luas meski anggaran penanganan hanya sekitar Rp500 miliar.
Artinya, persoalan karhutla tidak bisa hanya diselesaikan dengan dana—tetapi membutuhkan solusi pada akar masalah: akuntabilitas korporasi dan penegakan hukum yang tegas.
Riau Kembali Jadi Episentrum
Provinsi Riau kembali menjadi wilayah paling terdampak, terutama di kawasan pesisir timur dan pulau-pulau kecil.
Analisis WALHI Riau mencatat:
Ini mengungkap tiga persoalan utama:
Yang lebih mengkhawatirkan, titik api juga ditemukan di pulau-pulau kecil seperti Pulau Rupat, Bengkalis, dan Mendol—wilayah yang sangat rentan secara ekologis.
Kalimantan Barat: Dampak Nyata Hingga Korban Jiwa
Situasi serupa terjadi di Kalimantan Barat. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, terdeteksi 679 hotspot di dalam dan luar konsesi.
Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan. Bahkan, dilaporkan satu korban meninggal dunia akibat buruknya kualitas udara di Mempawah.
WALHI Kalbar menilai pola kebakaran yang terjadi bukan kebetulan.
Ada indikasi kuat:
Dengan kata lain, ini bukan sekadar bencana alam—melainkan kejahatan ekologis yang terstruktur.
Saatnya Negara Bertindak Tegas
Berulangnya karhutla di lokasi yang sama setiap tahun menjadi sinyal kuat bahwa pengawasan dan penegakan hukum masih lemah.
WALHI mendesak pemerintah untuk:
Karena jika tidak, Indonesia berpotensi kembali menghadapi bencana asap besar seperti tahun 2015—dengan dampak yang jauh lebih luas.