Presiden COP31: D-8 Berpeluang Jadi Kekuatan Baru Agenda Iklim Global, Siap Dorong Aksi Nyata hingga 2035


 Presiden COP31: D-8 Berpeluang Jadi Kekuatan Baru Agenda Iklim Global, Siap Dorong Aksi Nyata hingga 2035 Ilustrasi - COP31 di Turkiye. ANTARA/Anadolu/py.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Organisasi Delapan Negara Berkembang untuk Kerja Sama Ekonomi (D-8) dinilai memiliki peluang besar menjadi kekuatan baru dalam mendorong agenda iklim global. Penilaian itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Türkiye yang juga Presiden COP31, Murat Kurum, saat membuka Pertemuan Tingkat Menteri Internasional D-8 untuk COP31 di Istanbul, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, kolaborasi negara-negara berkembang kini menjadi kunci untuk mempercepat aksi nyata menghadapi perubahan iklim yang dampaknya semakin terasa di berbagai belahan dunia. Fokus COP31 pun diarahkan bukan lagi pada janji, melainkan implementasi konkret.

D-8 Dinilai Punya Posisi Strategis

Kurum mengatakan D-8 memiliki kekuatan strategis karena mencakup kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah dengan jumlah penduduk lebih dari satu miliar jiwa.

Menurutnya, posisi tersebut membuat D-8 berpotensi menjadi kekuatan transformatif dalam mendorong agenda perubahan iklim global.

"Komitmen bersama yang ditunjukkan D-8 akan menjadi faktor penting dalam pendekatan COP31 yang berfokus pada implementasi," ujar Kurum.Pertemuan tingkat menteri itu dihadiri pejabat yang membidangi lingkungan hidup dan perubahan iklim dari Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Azerbaijan, dan Türkiye.

Perubahan Iklim Bukan Lagi Ancaman Masa Depan

Kurum menegaskan bahwa perubahan iklim kini bukan sekadar ancaman yang akan datang, melainkan persoalan nyata yang telah memengaruhi berbagai sektor kehidupan.

Dampaknya dirasakan mulai dari pembangunan ekonomi, kawasan perkotaan, ketahanan pangan, sistem energi, hingga kesejahteraan masyarakat.

Meski berbagai negara telah menyampaikan komitmen pengurangan emisi, ia mengakui masih terdapat kesenjangan besar antara target yang disepakati dan pelaksanaan di lapangan.

COP31 Fokus pada Implementasi Nyata

Sebagai tuan rumah COP31, Türkiye mengusung tiga prinsip utama, yakni dialog, konsensus, dan aksi.

Kurum mengatakan negaranya siap berbagi pengalaman dalam berbagai bidang, mulai dari rekonstruksi pascabencana, program Zero Waste, pembangunan kota tangguh, efisiensi energi, ekonomi sirkular, hingga pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

Menurutnya, COP31 diharapkan menjadi wadah untuk mempercepat adaptasi perubahan iklim, memperluas akses terhadap pembiayaan dan teknologi, memperkuat ketahanan kota, serta mendorong penerapan solusi berbasis alam.

Target Implementasi Global hingga 2035

Dalam Agenda Aksi COP31, Türkiye mengusulkan sejumlah target implementasi global yang ingin dicapai pada 2035.

Beberapa target tersebut meliputi:

  • Meningkatkan tingkat elektrifikasi global menjadi 35 persen.
  • Mengurangi laju pertumbuhan timbulan sampah dunia hingga separuhnya.
  • Menurunkan intensitas penggunaan energi di sektor bangunan sedikitnya 25 persen.
  • Meningkatkan penggunaan material sirkular di sektor manufaktur hingga minimal 15 persen.
  • Memperluas pendidikan perubahan iklim.
  • Mempercepat akses pembiayaan iklim yang lebih efektif dan inklusif.
  • Climate Implementation Bridge untuk Negara Berkembang

Salah satu program unggulan yang diperkenalkan dalam COP31 adalah Climate Implementation Bridge.

Inisiatif ini dirancang untuk membantu negara-negara berkembang mengubah komitmen iklim menjadi proyek yang layak memperoleh pendanaan sekaligus memperluas akses terhadap pembiayaan internasional.

Selain itu, pertemuan D-8 juga membahas berbagai isu penting, seperti adaptasi perubahan iklim, kerugian dan kerusakan akibat bencana iklim, pembiayaan iklim, transisi energi yang adil, hingga penguatan kerja sama antarnegera anggota.

Deklarasi Istanbul Jadi Landasan Bersama

Di akhir pertemuan, Kurum menyampaikan bahwa Deklarasi Istanbul akan menjadi dokumen yang memuat visi bersama negara-negara D-8 di bidang lingkungan hidup dan perubahan iklim.

Dokumen tersebut diharapkan menjadi kontribusi penting bagi penyelenggaraan COP31 di Antalya, Türkiye, sekaligus memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam membentuk arah kebijakan iklim global.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Green Economy Insight Terbaru