Selasa, 27 Januari 2026

Ivan “Mogi” Nestorman: Budaya Kita, Masa Depan Kita


 Ivan “Mogi” Nestorman: Budaya Kita, Masa Depan Kita Di tengah murid-murid SMP di Kampung Pontor, Pulau Adonara, Flores Timur, NTT. ( Dok. Ivan Nestorman)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemusik terkenal asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Ivan “Mogi” Nestorman yang mempunyai nama asli Flavianus Nestor Embun mengatakan pentingnya kita memperhatikan kebudayaan di tengah globalisasi saat ini.

“Budaya kita, adalah masa depan kita,” katanya kepada arahkita.com di Jakarta, Kamis (15/2/2018). Ivan mengaku mengagumi budaya NTT yang sangat beragam, juga musiknya.

“Dalam karier saya sebagai pemusik yang sudah cukup lama, motif musik NTT selalu menjadi perhatian utama saya. Hal itu membuat saya berbeda menurut sahabat-sahabat bermusik saya di Jakarta. Saya beruntung jadi orang NTT,” terangnya.

Namun perhatian pada kekayaan budaya musik dan budaya lainnya yang sangat berlimpah tersebut belum mendapat perhatian yang cukup. Ivan malah kadang “cemburu” dengan pemerintah daerah, anggota DPR, DPD provinsi lain yang memberi perhatian besar pada budaya mereka.

“Saya bahkan pernah ikut promo musik Jawa Barat, angklung go international di Eropa. Saya juga pernah promo Raja Ampat di Timur Tengah hingga New York,” tutur penerima Public Diplomacy Award dari Pemerintah Afrika yang pernah mempromosikan sasando di London pada 2016.

Ivan yang telah pentas di lima benua ini mencontohkan, Provinsi Bali yang sudah sangat maju pariwisata dan budayanya mempunyai beberapa orang filantropis yang secara reguler meminta pemusik mereka berkarier atau tampil di panggung internasional asal menampilkan budaya dengan elemen Bali yang kental.

“Kepedulian akan budaya ini yang saya lihat lemah di daerah kita NTT,” keluh Penerima SCTV Award untuk karya Rekaman Paling Inovatif bersama grup Nera. Perjuangannya mengangkat musik NTT selama ini merupakan perjuangan pribadinya. Bukan dorongan atau bantuan pemda NTT, apalagi dukungan dewan terhormat di Senayan sana yang katanya menjadi wakil kita.

Pria kelahiran Ruteng, Manggarai, NTT, itu bernyanyi dalam bahasa-bahasa Flores dan juga NTT telah mengajak kawan-kawannya, drummer Gilang Ramadhan, gitaris Donny Suhendra, basis Adi Darmawan, dan seniman suling Saat Syah untuk tampil bersamanya.

Bagi nomine Anugerah Musik Indonesia ini, kebudayaan tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang taken for granted saja. Jalan menuju peradaban Flores atau NTT masih sangat jauh jika penyuburan budaya tidak dilakukan. Culture harus mendapatkan cultivation untuk sampai pada sebuah civilization.

“Saya ingin berdiri untuk kebudayaan NTT, bangkit dan mempertegas apa yang sudah saya lakukan dan menjadi perpanjangan tangan pemajuan budaya NTT agar kebudayaan kita tidak tumbuh begitu saja, dan harus menuju suatu desain yang pada akhirnya penguatan dan pemajuan semakin terasa di tanah kita. Saya ingin melakukan itu dengan segala pengalaman yang saya miliki,” ujar Ivan yang berniat terjun ke dunia politik dengan mencalonkan diri menjadi senator atau anggota DPD dari NTT.

“Saya tidak ingin pelaku budaya kita bingung karena ketiadaan alamat bercurhat, seperti yang pernah saya alami. Harus ada seseorang yang berdiri untuk hal itu,” lanjutnya.

Ivan menyadari dengan mencalonkan diri menjadi anggota DPD ia tidak sedang menawarkan diri menjadi obat pereda batuk yang bisa menyelesaikan semua problem budaya dalam waktu singkat.

“Ini semua kerja besar bersama kita. Saya hanya jubir, untuk kita agar negara bisa hadir di bumi NTT untuk kemajuan kebudayaan kita. Kebetulan itu sebuah area yang cukup saya paham sebagai seorang pelaku dan penggiat budaya NTT,” pungkasnya.(WLH)

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Hiburan Terbaru