Selasa, 27 Januari 2026

Studi Baru: Evolusi Virus Ebola Berperan Perpanjang Wabah Besar


 Studi Baru: Evolusi Virus Ebola Berperan Perpanjang Wabah Besar Pekerja medis melakukan desinfeksi untuk pusat perawatan penderita virus Ebola terbatas. ANTARA/Xinhua/aa.

GUANGZHOU, ARAHKITA.COM – Tim ilmuwan China berhasil mengidentifikasi mutasi penting pada virus Ebola yang terbukti meningkatkan daya infeksi selama wabah besar. Temuan ini membuka wawasan baru bagi pengawasan epidemi secara dini sekaligus pengembangan obat dan vaksin yang lebih adaptif.

Penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Cell dan dipimpin oleh Profesor Qian Jun dari Universitas Sun Yat-sen. Studi ini melibatkan kolaborasi lintas institusi, termasuk Rumah Sakit Rakyat Kedelapan Guangzhou di bawah Universitas Kedokteran Guangzhou serta Rumah Sakit Pertama Universitas Jilin.

“Dalam wabah penyakit menular berskala besar, pengawasan genomik secara real-time dan analisis evolusi patogen menjadi sangat krusial,” ujar Qian. Menurutnya, pendekatan ini bukan hanya memberi peringatan dini terhadap peningkatan risiko penularan, tetapi juga membantu menilai efektivitas obat dan vaksin yang sedang digunakan, sehingga strategi pengendalian bisa disesuaikan lebih cepat.

Riset ini berfokus pada wabah Ebola Virus Disease di Republik Demokratik Kongo sepanjang 2018–2020. Wabah tersebut tercatat sebagai yang terbesar kedua dalam sejarah Ebola, dengan lebih dari 3.000 kasus infeksi dan lebih dari 2.000 kematian.

Pertanyaan utama yang ingin dijawab para peneliti adalah apakah lamanya wabah hanya disebabkan oleh keterbatasan layanan kesehatan setempat, atau justru dipengaruhi oleh evolusi virus itu sendiri. Untuk menjawabnya, pada 2022 tim menganalisis 480 genom lengkap virus Ebola dari periode wabah tersebut.

Hasil analisis mengungkap munculnya varian dengan mutasi spesifik pada glikoprotein virus, yang dinamai GP-V75A, sejak fase awal epidemi. Varian ini dengan cepat menggantikan galur asli dan peningkatan dominasinya sejalan dengan lonjakan jumlah kasus, mengindikasikan keunggulan dalam kemampuan penularan.

Eksperimen lanjutan menggunakan berbagai model sel dan hewan memperkuat temuan tersebut. Mutasi GP-V75A terbukti secara signifikan meningkatkan kemampuan virus untuk menginfeksi beragam jenis sel inang, termasuk pada uji coba terhadap tikus.

Tak hanya itu, penelitian ini juga mengungkap potensi tantangan klinis. Mutasi GP-V75A diketahui menurunkan efektivitas sejumlah antibodi terapeutik dan inhibitor masuk molekul kecil yang selama ini digunakan, sehingga memunculkan risiko resistensi obat di masa depan.

“Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan genom virus secara berkelanjutan selama wabah berlangsung,” jelas tim peneliti sebagaimana dilansir Antara. Menurut mereka, langkah ini krusial untuk mengantisipasi ancaman evolusi virus sekaligus menjadi dasar pengembangan strategi penanggulangan penyakit yang lebih luas dan berkelanjutan.

Makalah penelitian berjudul “Molecular Characterization of Ebola Virus Glycoprotein V75A Substitution in the 2018–2020 Epidemic” saat ini telah tersedia dan dapat diakses secara daring.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru