Jumat, 23 Januari 2026

Pidato Tahun Baru Xi Jinping: Reunifikasi China–Taiwan Disebut Tak Bisa Dihentikan


 Pidato Tahun Baru Xi Jinping: Reunifikasi China–Taiwan Disebut Tak Bisa Dihentikan Presiden China Xi Jinping. (iNews)

BEIJING, ARAHKITA.COM — Presiden China Xi Jinping kembali menegaskan tekad Beijing untuk menyatukan Taiwan dengan China. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato Tahun Baru yang digelar di Beijing, hanya sehari setelah berakhirnya rangkaian latihan militer besar-besaran China di sekitar Taiwan.

Dalam pidatonya, Xi menyatakan bahwa reunifikasi merupakan keniscayaan sejarah. “Penyatuan kembali tanah air kita adalah tren zaman dan tidak dapat dihentikan,” ujar Xi. Pernyataan tersebut dikutip dari The Guardian.

China selama ini mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, meski pulau itu memiliki pemerintahan sendiri. Beijing juga berulang kali menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mencapai tujuan tersebut.

Latihan Militer Intensif di Sekitar Taiwan

Pernyataan Xi muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di Selat Taiwan. Pada awal pekan, Tentara Pembebasan Rakyat China atau People's Liberation Army menggelar latihan tembak langsung bertajuk Misi Keadilan 2025. Latihan ini melibatkan angkatan laut, udara, pasukan roket, hingga penjaga pantai, dengan skenario pengepungan pulau utama Taiwan.

Otoritas Taiwan menyebut latihan tersebut sebagai yang paling intens dalam lebih dari setahun terakhir. Ratusan pesawat tempur dikerahkan, disertai peluncuran puluhan rudal yang sebagian jatuh tidak jauh dari garis pantai Taiwan. Meski latihan resmi telah berakhir, Taiwan tetap berada dalam status siaga tinggi karena kehadiran kapal dan perangkat pengawasan China di sekitar wilayahnya.

Reaksi Internasional dan Isu Penjualan Senjata AS

Sejumlah analis menilai latihan militer ini berkaitan dengan keputusan Amerika Serikat yang menyetujui penjualan senjata bernilai miliaran dolar ke Taiwan. Langkah tersebut memicu kritik keras dari Beijing dan memperkuat kekhawatiran komunitas internasional atas stabilitas kawasan.

Beberapa negara, termasuk Inggris, Jepang, Australia, Filipina, Uni Eropa, dan Amerika Serikat, menyuarakan keprihatinan atas manuver militer China. Namun, Beijing menilai kritik tersebut sebagai campur tangan eksternal dan menegaskan bahwa isu Taiwan adalah urusan domestik China.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa ancaman terbesar bagi perdamaian di Selat Taiwan justru berasal dari gerakan separatis dan dukungan asing terhadap Taiwan.

Narasi Sejarah dan Politik Tahun Ini

Dalam pidatonya, Xi juga menyinggung peringatan “Hari Pengembalian Taiwan” yang baru ditetapkan untuk mengenang berakhirnya pendudukan Jepang di Taiwan pada 1945. Isu sejarah Perang Dunia Kedua kembali menjadi bagian penting dari narasi politik China, terutama dalam membingkai klaim kedaulatan atas Taiwan.

Sementara itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te menanggapi dengan nada tegas. Dalam pidato Tahun Baru versinya, Lai memperingatkan meningkatnya ambisi ekspansionis China dan menegaskan komitmen Taiwan untuk mempertahankan kedaulatan nasional, sekaligus mendesak parlemen memperkuat anggaran pertahanan.

Ambisi Global China

Selain isu Taiwan, Xi juga menyoroti peran China di panggung global. Ia menekankan keterbukaan Beijing terhadap dunia internasional, kemajuan teknologi tinggi, serta keberhasilan ekspor budaya seperti gim Black Myth: Wukong dan film animasi Ne Zha 2. Di hadapan elite Partai Komunis, Xi optimistis China berada di jalur yang tepat untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Pidato Tahun Baru ini kembali menunjukkan bahwa isu Taiwan tetap menjadi inti kebijakan strategis Beijing—baik dalam konteks politik domestik, kekuatan militer, maupun ambisi global China.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru