Loading
Salju terlebat diperkirakan akan turun pada Minggu malam (Getty Images/The Independent)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Jutaan warga di Pantai Timur Amerika Serikat bersiap menghadapi nor’easter—badai musim dingin besar yang diprediksi membawa hujan salju ekstrem dan angin kencang. New York City resmi berada di bawah peringatan badai salju pertama dalam sembilan tahun, menandai potensi gangguan besar pada awal pekan.
Rekaman satelit memperlihatkan sistem badai raksasa bergerak menyusuri pesisir timur. Otoritas cuaca memperluas area peringatan, mencakup New Jersey, Long Island, Connecticut bagian selatan, hingga wilayah pesisir Delaware. Selain salju, risiko banjir juga mengintai sejumlah titik di New York dan New Jersey.
Menurut National Weather Service, penilaian dampak badai dinaikkan signifikan setelah proyeksi awal dinilai terlalu optimistis. Kini, prakiraan menunjukkan akumulasi salju 30–61 sentimeter di banyak wilayah. Puncak intensitas diperkirakan terjadi Minggu malam, dengan laju salju bisa mencapai 5 sentimeter per jam, sebelum berangsur melemah pada Senin siang.
Badai ini diprediksi bermula relatif tenang pada Minggu—bahkan disertai hujan di beberapa lokasi—namun cepat menguat saat malam tiba. Angin 40–56 km/jam berpotensi membuat perjalanan berbahaya hingga nyaris mustahil, meningkatkan risiko ranting pohon tumbang dan pemadaman listrik akibat kombinasi angin dan beban salju.
Situasi makin rumit karena sisa es dari badai sebelumnya baru saja mencair. Lapisan permukaan yang basah dan licin bisa memperparah kondisi jalan saat salju baru turun deras.
Melalui platform X, Zohran Mamdani mengingatkan warga agar menghindari perjalanan yang tidak mendesak. “Salju mulai turun Minggu pagi, semakin lebat di malam hari, dan akan membuat perjalanan Senin pagi sangat berbahaya. Jika bisa tinggal di rumah, tinggallah di rumah,” tulisnya dilansir dari The Independent.
Dengan proyeksi dampak luas—transportasi terganggu, aktivitas ekonomi melambat, dan risiko keselamatan meningkat—warga diimbau memantau pembaruan resmi, menyiapkan kebutuhan darurat, serta menunda mobilitas hingga kondisi membaik.