Loading
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia akan memberlakukan tarif global sebesar 15%. (Foto: EPA/BBC)
WASHINGTON, ARAHKITA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat banyak pengamat angkat alis. Dalam pidato kenegaraan (State of the Union/SOTU) terpanjang sepanjang sejarah presiden AS, Trump nyaris tidak menyebut China. Padahal, kunjungannya ke Beijing tinggal menghitung minggu.
Sepanjang pidato yang membahas inflasi, tarif impor, hingga rekor pasar saham, nama China hanya muncul sekali. Itu pun secara tidak langsung, saat Trump menyinggung “teknologi militer Rusia dan China” yang disebut melindungi Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Selebihnya, ekonomi terbesar kedua di dunia itu absen dari panggung utama.
Keheningan ini terasa kontras dengan masa jabatan pertama Trump (2017–2021), ketika China hampir selalu menjadi sasaran kritik terbuka dalam pidato kenegaraan. Saat itu, Beijing kerap digambarkan sebagai ancaman strategis bagi Amerika Serikat.
Menurut Gabriel Wildau dari Teneo, langkah Trump kali ini bukan tanpa perhitungan. Ia menilai Trump tak ingin memicu konflik baru dengan China di tahun politik. Stabilitas hubungan Washington–Beijing dianggap lebih menguntungkan secara elektoral, setidaknya untuk sementara waktu.
Rencana kunjungan Trump ke Beijing pada 31 Maret hingga 2 April memperkuat dugaan itu. Meski demikian, Kementerian Luar Negeri China belum mengonfirmasi jadwal resmi tersebut. George Chen dari The Asia Group bahkan menilai situasi ini membuat Trump tampak lebih berambisi berkunjung ke China dibandingkan keinginan Presiden China Xi Jinping untuk menerimanya.
Sejumlah analis melihat minimnya penyebutan China sebagai sinyal kehati-hatian. “Ini contoh bagaimana Trump saat ini menahan diri dalam isu hubungan AS–China,” kata Chen. Nada serupa juga muncul dari Yue Su, Kepala Ekonom Economist Intelligence Unit, yang menyebut kebijakan Trump terhadap Beijing semakin sulit diprediksi.
Situasi ini makin menarik jika dikaitkan dengan perang tarif. AS dan China sempat saling menaikkan tarif hingga di atas 100 persen, sebelum akhirnya mencapai gencatan senjata dagang dan menurunkannya di bawah 50 persen. Di sisi lain, Beijing juga memperketat ekspor logam tanah jarang—komoditas strategis yang sangat dibutuhkan industri teknologi global.
Seperti dikutip dari CNBC, sejumlah pengamat menilai Trump sengaja memilih isu yang lebih “aman” secara politik, seperti kemenangan militer simbolik atas negara-negara yang lebih lemah, ketimbang membuka front baru dengan China soal logam tanah jarang atau rantai pasok global.
Respons di China sendiri terbilang datar. Media pemerintah menyoroti kritik internal di Kongres AS terhadap pidato Trump, sementara perhatian publik terhadap isi pidato relatif tenang. Sebaliknya, Partai Demokrat AS justru menggunakan momen ini untuk menyerang Trump, menudingnya melemahkan posisi ekonomi dan teknologi AS di hadapan China dan Rusia.
Lalu, apakah langkah diam ini pertanda sesuatu yang lebih besar? Para analis menilai, jika Trump berhasil membawa pulang kesepakatan dari Beijing—baik soal tarif maupun pembelian produk pertanian AS—ia bisa menjualnya sebagai kemenangan besar bagi pendukungnya. Namun jika negosiasi gagal, pendekatan keras pun tetap bisa dibingkai sebagai sikap tegas demi kepentingan nasional.
Singkatnya, tidak menyebut China bisa jadi bukan tanda menghindar, melainkan bagian dari strategi. Di balik pidato panjang yang terdengar domestik, ada manuver geopolitik yang masih menunggu babak penentuan.