Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militer untuk Serang ke Iran


 Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militer untuk Serang ke Iran Inggris Izinkan AS Gunakan Pangkalan Militer untuk Serangan ke Iran. (The Guardian)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan negaranya telah mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya untuk menyerang fasilitas rudal Iran, menyusul meningkatnya ancaman keamanan di kawasan Timur Tengah. Keputusan itu disampaikan dalam pernyataan resmi pada Minggu malam setelah pemerintah menilai langkah Teheran semakin berisiko bagi warga dan kepentingan Inggris.

Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, pangkalan udara RAF Akrotiri di Siprus dilaporkan terkena serangan drone dengan kerusakan ringan tanpa korban jiwa. Pemerintah menyebut tindakan mengizinkan akses pangkalan dilakukan dalam kerangka pertahanan diri kolektif atas permintaan sekutu regional.

Starmer, dilansir The Guardian, mengatakan sekitar 200.000 warga Inggris berada di negara-negara Timur Tengah yang menjadi target serangan rudal Iran. Ia menegaskan satu-satunya cara menghentikan ancaman adalah menghancurkan sistem peluncur di sumbernya. Inggris, menurutnya, telah menerbangkan jet tempur sebagai bagian dari operasi pertahanan terkoordinasi yang diklaim berhasil mencegat serangan.

Dalam pernyataan bersama dengan Prancis dan Jerman, pemerintah Inggris menegaskan siap mengambil langkah untuk melindungi kepentingan dan sekutu, termasuk memungkinkan tindakan militer yang dianggap perlu dan proporsional untuk menonaktifkan kemampuan peluncuran rudal dan drone Iran.

Keputusan tersebut memicu kritik politik domestik. Emily Thornberry dari Partai Buruh menilai aksi militer AS melanggar hukum internasional. Sementara itu, Partai Liberal Demokrat melalui pemimpinnya Ed Davey menuntut parlemen diberi hak suara sebelum pangkalan digunakan. Ia memperingatkan Inggris tidak boleh terseret perang berkepanjangan di Timur Tengah.

Kritik serupa datang dari Partai Hijau. Pemimpinnya, Zack Polanski, mengatakan kepada BBC bahwa serangan AS merupakan tindakan ilegal tanpa provokasi. Namun di sisi lain, tekanan juga muncul dari Partai Konservatif dan Reform UK yang mendesak dukungan lebih kuat bagi kebijakan militer Washington.

Pemerintah Inggris menolak menyatakan secara terbuka dukungan terhadap operasi militer Presiden Donald Trump, yang menurut klaim AS telah menewaskan puluhan pemimpin Iran. Menteri Pertahanan John Healey bahkan menyebut sedikit pihak akan meratapi kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, karena rekam jejak pemerintahannya terhadap demonstran dan konflik regional.

Di tengah meningkatnya ketegangan, asap juga terlihat membumbung dari area pelabuhan di Abu Dhabi, memperlihatkan meluasnya dampak konflik. Situasi ini menandai potensi eskalasi konflik internasional yang dapat menyeret lebih banyak negara jika ketegangan terus meningkat.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru