Loading
Ilustrasi - Badai topan. (ANTARA/Anadolu)
TOKYO, ARAHKITA.COM – Topan Jangmi yang melintasi Jepang menyebabkan sedikitnya 23 orang mengalami luka-luka, termasuk satu korban yang dilaporkan dalam kondisi kritis. Badai tropis tersebut bergerak cepat dari wilayah barat daya menuju timur laut Jepang sebelum akhirnya menjauh ke arah Samudra Pasifik.
Berdasarkan laporan otoritas Jepang yang dikutip Kantor Berita Kyodo pada Rabu (3/6/2026), Topan Jangmi pertama kali menerjang wilayah Okinawa sebelum bergerak ke utara dan memengaruhi sejumlah daerah lainnya.
Wilayah Okinawa menjadi daerah yang paling terdampak akibat badai ini. Data Kementerian Urusan Dalam Negeri Jepang mencatat 17 dari total 23 korban luka berasal dari prefektur yang berada di bagian selatan negara tersebut.
Dampak topan tidak hanya dirasakan oleh warga, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Jepang mengumumkan bahwa kegiatan belajar mengajar dibatalkan di 5.378 sekolah dan institusi pendidikan yang tersebar di 23 prefektur.
Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi guna menjaga keselamatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan di tengah cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah Jepang.
Hingga Rabu sore waktu setempat, Topan Jangmi dilaporkan mulai bergerak menjauh dari pesisir Prefektur Chiba dan menuju kawasan Samudra Pasifik. Meski demikian, otoritas setempat tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi angin kencang, hujan lebat, serta gangguan transportasi yang masih dapat terjadi.
Menurut data meteorologi Jepang, tekanan udara di pusat topan tercatat sebesar 985 hektopaskal. Kecepatan angin maksimum di sekitar pusat badai mencapai 25 meter per detik, sementara embusan angin terkuat dapat mencapai hingga 35 meter per detik.
Topan Jangmi menjadi salah satu badai tropis yang memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat Jepang pada awal Juni 2026, terutama di sektor pendidikan dan transportasi. Otoritas terkait terus memantau perkembangan cuaca untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan di wilayah yang masih berada di jalur pergerakan badai.