Loading
Ilustrasi - Warga mencari perlindungan setelah wilayah pemukiman mereka dibombardir Israel. (ANTARA/Anadolu/py)
BEIRUT, ARAHKITA.COM – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali memakan korban jiwa. Serangan militer Israel di Lebanon dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 570 orang, sementara 1.444 warga sipil lainnya mengalami luka-luka sejak 2 Maret 2026.
Data tersebut disampaikan oleh pusat krisis Pemerintah Lebanon pada Selasa (10/3/2026), yang terus memantau perkembangan situasi keamanan di berbagai wilayah negara itu.
“Jumlah total korban akibat agresi Israel sejak 2 Maret telah mencapai 570 orang, dengan 1.444 orang lainnya luka-luka,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan otoritas Lebanon.
Serangan Balasan Israel
Ketegangan meningkat setelah roket ditembakkan dari wilayah Lebanon ke arah Israel pada awal Maret. Serangan tersebut kemudian diklaim oleh kelompok Syiah Lebanon, Hizbullah, sebagai bentuk perlawanan terhadap Israel.
Menanggapi serangan itu, militer Israel melancarkan serangan balasan berskala besar ke sejumlah wilayah di Lebanon. Beberapa daerah yang menjadi target termasuk kawasan padat penduduk, bahkan hingga wilayah ibu kota, Beirut.
Serangan tersebut memicu kepanikan warga yang tinggal di daerah terdampak.
Ratusan Ribu Warga Mengungsi
Akibat intensitas serangan yang meningkat, ratusan ribu warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka. Banyak keluarga memilih mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman demi menghindari risiko serangan lanjutan dikutip Antara.
Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan, terutama jika konflik terus berlanjut dan akses bantuan kemanusiaan menjadi terbatas.
Hingga kini, pemerintah Lebanon bersama berbagai lembaga kemanusiaan masih berupaya menangani para korban serta menyediakan tempat perlindungan sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.