Loading
Penampakan Selat Hormuz di waktu normal. (Gambar: Adda247)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Iran menegaskan penolakannya terhadap rencana pengamanan Selat Hormuz oleh pasukan militer dari luar kawasan Timur Tengah. Sikap ini disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, yang menilai kehadiran tentara non-regional justru berpotensi memperkeruh situasi.
Menurut Jalali, keamanan kawasan seharusnya menjadi tanggung jawab negara-negara di wilayah tersebut, bukan oleh kekuatan militer dari luar.
“Kami menentang masuknya pasukan non-regional ke wilayah ini. Kehadiran mereka hanya akan memperumit persoalan regional dan tidak memberikan solusi nyata,” kata Jalali kepada kantor berita Rusia RIA Novosti.
Ia juga menilai bahwa ketegangan yang terjadi di Timur Tengah saat ini bukan semata konflik regional, melainkan situasi yang dipicu oleh kekuatan dari luar kawasan.
Rencana Koalisi Militer Usulan Prancis
Pernyataan Jalali tersebut merupakan respons atas gagasan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang sebelumnya mengusulkan pembentukan koalisi internasional untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Macron menyatakan bahwa koalisi tersebut akan menggabungkan kekuatan militer serta sumber daya dari berbagai negara guna memastikan keamanan kapal-kapal yang melintas di jalur perdagangan strategis itu.
Menurutnya, misi tersebut kemungkinan baru akan dijalankan setelah fase paling intens dari konflik yang melibatkan Iran mereda.Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi pintu utama distribusi minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.
Konflik Memanas di Timur Tengah
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat drastis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan fasilitas serta korban sipil.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Pada awalnya, Washington dan Tel Aviv menyebut operasi militer tersebut sebagai langkah untuk menekan ancaman yang mereka kaitkan dengan program nuklir Iran. Namun kemudian mereka juga menyatakan bahwa tujuan serangan tersebut berkaitan dengan upaya mendorong perubahan kekuasaan di Iran.
Dalam operasi militer itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur pada hari pertama serangan.
Rusia Kecam Operasi Militer
Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam keras operasi militer yang menewaskan Khamenei tersebut. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengeluarkan pernyataan resmi yang mengutuk operasi militer Amerika Serikat dan Israel. Moskow mendesak semua pihak untuk segera melakukan deeskalasi dan menghentikan permusuhan yang dapat memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Dengan situasi yang terus memanas, Selat Hormuz kembali menjadi titik strategis yang mendapat perhatian dunia. Jalur ini bukan hanya penting bagi keamanan energi global, tetapi juga berpotensi menjadi pusat ketegangan geopolitik yang lebih luas.